GAMBARAN PARITAS IBU PADA PERSALINAN PRETERM DI RSUD HASANUDDIN DAMRAH MANNA KABUPATEN BENGKULU SELATAN TAHUN 2014

GAMBARAN PARITAS IBU PADA PERSALINAN PRETERM

DI RSUD HASANUDDIN DAMRAH MANNA

KABUPATEN BENGKULU SELATAN

TAHUN 2014

 

Kristina Paskana 

Dosen Tetap Akademi Kebidanan Manna

 

Abstrak: Preterm merupakan persalinan belum cukup umur di bawah 37 minggu atau berat bayi kurang dari 2500 gr. Salah satu faktor yang meningkatkan risiko kejadian persalinan preterm ini adalah paritas, yaitu jumlah kehamilan yang menghasilkan bayi viable. Berdasarkan survei awal diketahui bahwa pada bulan Januari 2014 kasus persalinan preterm terjadi sebanyak 9 kasus (15,51%) dari 58 persalinan dan bulan Februari 2014 sebanyak 7 kasus (14,28%) dari 49 persalinan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui gambaran paritas ibu pada persalinan preterm di RSUD Hasanuddin Damrah Manna Kabupaten Bengkulu Selatan tahun 2014. Rancangan penelitian menggunakan metode deskriptif, sedangkan penelitian dilakukan di RSUD Hasanuddin Damrah Manna Kabupaten Bengkulu Selatan pada bulan Juni-Juli 2015. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu dengan persalinan preterm di RSUD Hasanuddin Damrah Manna periode Januari-Desember 2014 berjumlah 61 orang ibu, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paritas ibu pada persalinan preterm paling banyak terjadi pada paritas tidak aman yaitu sebanyak 35 orang (57,4%), sedangkan 26 orang ibu lainnya (42,6%) berada pada paritas aman. Simpulannya bahwa sebagian besar ibu dengan persalinan preterm berada pada paritas tidak aman (paritas <2 atau > 3).

 

Kata Kunci: Paritas Ibu, Persalinan Preterm

 

 


PENDAHULUAN

Angka Kematian Bayi (AKB) adalah jumlah kematian bayi dalam usia 28 hari pertama kehidupan per 1000 kelahiran hidup. Angka ini merupakan salah satu indikator derajat kesehatan bangsa. Tingginya AKB ini dapat menjadi petunjuk bahwa pelayanan maternal dan neonatal kurang baik, untuk itu dibutuhkan upaya untuk menurunkan angka kematian bayi tersebut (Ariana DN, 2011).

Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 AKB di Indonesia sebesar 32/1000 kelahiran hidup, sedangkan berdasarkan kesepakatan global Millenium Development Goals (MDGS) bahwa target AKB yang ingin dicapai adalah 23/1.000 kelahiran hidup. Tingginya angka kematian bayi tersebut disebabkan oleh asfiksia neonatorum (49-60%), prematur dan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) (24-34%), infeksi (15-20%), trauma persalinan (2-7%) dan cacat bawaan (1-3%) (Kementerian Kesehatan RI, 2013).

Prematur atau persalinan preterm merupakan persalinan belum cukup umur di bawah 37 minggu atau berat bayi kurang dari 2500 gr, dimana bayi belum tumbuh dan berkembang secara sempurna. Semakin muda usia kehamilan, semakin tinggi angka kematian perinatal. Umur kehamilan yang kurang, menyebabkan bayi yang lahir belum sepenuhnya dapat beradaptasi dengan lingkungan di luar kandungan sehingga angka morbiditas dan mortalitas perinatal meningkat. Dampak negatif tidak saja terhadap morbiditas dan mortalitas perinatal, tetapi juga terhadap potensi generasi yang akan datang, kelainan mental dan beban ekonomi bagi keluarga dan bangsa secara keseluruhan (Wiknjosastro, 2007).

Etiologi persalinan preterm sering kali tidak diketahui. Ada beberapa kondisi medik yang mendorong untuk dilakukan tindakan sehingga terjadi persalinan preterm. Salah satu faktor yang meningkatkan risiko kejadian persalinan preterm ini adalah paritas, yaitu jumlah kehamilan yang menghasilkan bayi viable (Kartikasari, 2012).

Semakin tinggi paritas maka kemampuan rahim untuk menyediakan nutrisi bagi ibu dan janin akan terganggu yang akhirnya dapat mengakibatkan terjadinya persalinan preterm. Penelitian paritas ibu hamil yang dilakukan Agustiana (2011) di Indonesia ditemukan kasus persalinan preterm paling banyak terjadi pada ibu dengan paritas multipara (63,9%) dibandingkan dengan ibu yang primipara (36,1%) (Edrin, 2012).

Ibu dengan paritas tinggi, secara fisik sudah mengalami kemunduran untuk menjalani kehamilan yang tidak mudah. Paritas tinggi merupakan paritas rawan karena banyak kejadian obstetri patologi yang bersumber pada paritas tinggi. Hal ini disebabkan pada ibu yang lebih dari satu kali mengalami kehamilan dan persalinan fungsi reproduksi telah mengalami penurunan, sehingga menyebabkan terjadinya persalinan preterm (Kartikasari, 2012).

Terjadinya persalinan preterm pada ibu dengan paritas tinggi (lebih dari 5 kali) disebabkan karena ibu bersalin dengan paritas tinggi mengalami kehamilan dan persalinan berulang kali sehingga pada sistem reproduksi terdapat penurunan fungsi dan akan meningkat menjadi risiko tinggi (Ariana DN, 2011).

Terjadinya persalinan kurang bulan pada nulipara (paritas 0 belum pernah melahirkan sama sekali) terutama yang berumur belasan tahun diduga disebabkan kehamilan pertama merupakan pengalaman pertama bagi ibu untuk melahirkan, hal itu akan menyebabkan timbulnya beberapa penyulit kehamilan. Penyulit kehamilan ini dapat merupakan ketuban pecah dini, infeksi selaput ketuban, gemelli, perdarahan antepartum ataupun stres yang berhubungan dengan lingkungan yang memungkinkan untuk terjadinya persalinan kurang bulan, baik secara persalinan spontan maupun buatan (Edrin, 2012).

Data Dinas Kesehatan Propinsi Bengkulu tahun 2013 tercatat jumlah kasus persalinan preterm sebanyak 279 kasus (2,29%) dari 12.134 ibu bersalin, sedangkan di Kabupaten Bengkulu Selatan tahun 2013 jumlah kasus persalinan preterm terjadi 179 kasus persalinan preterm 34 (1,04%) dari 3.274 ibu bersalin (Dinas Kesehatan Bengkulu Selatan, 2014).

Menurut studi pendahuluan yang dilakukan peneliti pada tanggal 3 Maret 2015 di RSUD Hasanuddin Damrah Manna Kabupaten Bengkulu Selatan diperoleh data bahwa pada tahun 2013 terjadi 91 kasus persalinan preterm (15,45%) dari 589 persalinan, sedangkan pada bulan Januari 2014 kasus persalinan preterm terjadi sebanyak 9 kasus (15,51%) dari 58 persalinan dan bulan Februari 2014 sebanyak 7 kasus (14,28%) dari 49 persalinan (Medical record, 2014)

Berdasarkan uraian tersebut, peneliti merasa tertarik untuk meneliti tentang gambaran paritas ibu pada persalinan preterm di RSUD Hasanuddin Damrah Manna Kabupaten Bengkulu Selatan tahun 2014.

METODE

Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan non-experimental, sedangkan jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu dengan persalinan preterm di RSUD Hasanuddin Damrah Manna periode Januari-Desember 2014 berjumlah 61 orang ibu, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari data register ibu di RSUD Hasanuddin Damrah Manna Kabupaten Bengkulu Selatan yang diambil dari ibu dengan persalinan kurang dari 37 minggu. Data diperoleh melalui cek dokumentasi, artinya data yang didapat dari buku register ibu di RSUD Hasanuddin  Damrah  Manna kemudian dimasukkan kedalam lembar observasi untuk kemudian dilakukan analisis data.Analisis yang digunakan dalam penelitian adalah analisis univariat. Yang menghasilkan distribusi frekuensi dan presentase.

HASIL

Setelah dilakukan pengolahan data tentang paritas ibu pada persalinan preterm di RSUD Hasanuddin Damrah Manna tahun 2014, selanjutnya peneliti melakukan analisis univariat yang hasilnya ditampilkan dalam tabel dan narasi berikut .

 

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Paritas Ibu pada Persalinan Preterm

di RSUD Hasanuddin Damrah Manna Kabupaten Bengkulu Selatan

 

No

Paritas

F

%

1

Paritas aman

26

42,6

2

Paritas tidak aman

35

57,4

Jumlah

61

100

 

Berdasarkan Tabel 4.1 dapat dilihat bahwa frekuensi paritas ibu paling banyak terjadi pada paritas tidak aman yaitu sebanyak 35 orang (57,4%), sedangkan 26 orang ibu lainnya (42,6%) berada pada paritas aman. Untuk lebih jelasnya, persentase paritas ibu pada persalinan preterm di RSUD Hasanuddin Damrah Manna, dapat dilihat pada gambar berikut.

 

 

Gambar Paritas Ibu pada Persalinan Preterm di RSUD Hasanuddin Damrah Manna Kabupaten Bengkulu Selatan

Ttahun 2014

 

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di RSUD Hasanuddin Damrah Manna Kabupaten Bengkulu Selatan diketahui bahwa ibu dengan persalinan preterm sebagian besar yaitu 35 orang (57,4%) berada pada paritas tidak aman (paritas <2 atau > 3), sedangkan 26 orang ibu lainnya (42,6%) berada pada paritas aman (paritas 2 dan 3) . Hal ini menunjukkan bahwa jumlah paritas ibu merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya kelahiran preterm karena jumlah paritas dapat mempengaruhi keadaan kesehatan ibu.

Ibu dengan paritas tidak aman (paritas <2 atau > 3) cenderung mengalami komplikasi dalam kehamilan yang akhirnya berpengaruh pada hasil persalinan. Ibu dengan paritas di atas 3, secara fisik sudah mengalami kemunduran untuk menjalani kehamilan yang tidak mudah. Paritas tinggi merupakan paritas rawan karena banyak kejadian obstetri patologi yang bersumber pada paritas tinggi, antara lain preeklampsi, perdarahan antenatal sampai atonia uteri. Hal ini disebabkan pada ibu yang lebih dari tiga kali mengalami kehamilan dan persalinan fungsi reproduksi telah mengalami penurunan.

Hal ini sesuai dengan ungkapan yang dikemukakan Wiknjosastro (2007) bahwa paritas ke 2-3 merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut kematian maternal. Paritas 1 dan paritas lebih dari 3 (paritas tinggi) mempunyai angka kematian maternal lebih tinggi. Lebih tinggi paritas, lebih tinggi kematian maternal (Wiknjosastro, 2007).

Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh Kartikasari (2012) bahwa kejadian persalinan preterm akan meningkat pada multiparitas. Peluang terjadinya persalinan preterm pada paritas tinggi 3,28 kali lebih besar dibanding dengan paritas rendah. Hal ini menunjukkan bahwa multiparitas merupakan faktor risiko terjadinya persalinan preterm.

Pada penelitian sebelumnya oleh Agustina tahun 2005 di RSUD Dr. Soetomo Surabaya menyatakan bahwa paritas dengan kejadian partus premature mempunyai hubungan yang bermakna dengan signifikansi (ρ=0,000), dimana pada pasien pada kehamilan pertama  atau yang paritasnya lebih dari 3 ada kecenderungan mempunyai risiko mengalami persalinan preterm 4 kali lebih besar bila dibandingkan dengan pasien yang paritasnya antara 2 dan 3 (Agustina, F, 2006).

Terjadinya persalinan kurang bulan pada kehamilan pertama terutama yang berumur belasan tahun diduga disebabkan kehamilan pertama merupakan pengalaman pertama bagi ibu untuk melahirkan, hal itu akan menyebabkan timbulnya beberapa penyulit kehamilan. Penyulit kehamilan ini dapat merupakan ketuban pecah dini, infeksi selaput ketuban, gemelli, perdarahan antepartum ataupun stres yang berhubungan dengan lingkungan yang memungkinkan untuk terjadinya persalinan kurang bulan, baik secara persalinan spontan maupun buatan (Edrin, 2012).

Pada penelitian ini adanya kejadian preterm pada paritas aman dapat disebabkan oleh berbagai faktor lain yang mempengaruhi seperti faktor idiopatik yang apabila penyebab partus prematur tidak dapat diterangkan, faktor Iatrogenik yang apabila kelangsungan kehamilan dapat membahayakan janin ataupun ibu sehingga menyebabkan persalinan prematur buatan, kemudian faktor sosio demografik seperti kecemasan, stress, pekerjaan ibu, perilaku ibu, ataupun kondisi sosio ekonomi keluarga, serta faktor maternal seperti inkompetensi serviks, pernah mengalami partus prematur, interval kehamilan, kehamilan multijanin, ataupun karena infeksi yang tidak diketahui sebabnya.

Menurut Astolfi dan Zonta mendapatkan 64 % peningkatan kejadian preterm pada populasi wanita Italia yang berusia 35 tahun atau lebih, terutama pada kehamilan pertama (primi tua) dan persalinan preterm lebih sering terjadi pada kehamilan pertama. Sedangkan menurut menurut sumber lain, penyebab dari partus prematur adalah karena gaya hidup ibu seperti merokok, gizi buruk, penambahan berat badan kurang selama kehamilan dan penggunaan obat. Sedangkan faktor lainnya yang dikaitkan adalah umur ibu yang muda, perawakan pendek, faktor-faktor pekerjaan, stress psikologis dan infeksi (Cunningham, 2008).

Ibu bersalin dengan paritas tinggi mengalami kehamilan dan persalinan berulang kali sehingga pada sistem reproduksi terdapat penurunan fungsi dan akan meningkat menjadi risiko tinggi apabila ibu dengan paritas lebih dari 3. Pada penelitian ini paritas responden yang dijadikan sampel ada yang lebih dari 3 (paritas tidak aman) yaitu sebanyak 17 orang (27,9%).

Berdasarkan hasil penelitian, maka sesuai dengan teori Bobak (2008) yang menyatakan bahwa persalinan preterm lebih banyak terjadi pada ibu dengan paritas tinggi (lebih dari 5 kali) (Bobak, 2008).

 

 

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian tentang gambaran paritas ibu pada persalinan preterm di RSUD Hasanuddin Damrah Manna Kabupaten Bengkulu Selatan tahun 2014, maka kesimpulannya adalah ibu dengan persalinan preterm sebagian besar yaitu 35 orang (57,4%) berada pada paritas tidak aman. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah paritas ibu merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya kelahiran preterm karena jumlah paritas dapat mempengaruhi keadaan kesehatan ibu, sedangkan adanya kejadian preterm pada paritas aman dapat disebabkan oleh berbagai faktor lain yang mempengaruhi seperti faktor idiopatik, faktor iatrogenik dan faktor sosio demografik, serta faktor maternal.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan acuan khususnya oleh Bidan, perlunya meningkatkan pengetahuan tentang faktor penyebab terjadinya persalinan preterm sehingga dapat memberikan konseling dan pendidikan kesehatan pada masyarakat, pasangan usia subur dan ibu hamil tentang faktor risiko yang berpengaruh terhadap kelahiran prematur, serta memberikan tindakan pada ibu hamil yang berisiko mengalami persalinan

 

RUJUKAN (Daftar Pustaka)

Agustiana T. (2010). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Persalinan Preterm di Indonesia Tahun 2010 (Analisis Data Riskesdas Tahun 2010). Skripsi. Universitas Indonesia, Jakarta.

Agustina, F. (2006). Aplikasi Uji Chi Kuadrat Mantel Haenszel dan Uji Regresi Logistik Ganda untuk Penilaian Peranan Variabel Perancu pada Hubungan antara Paritas dengan Partus Prematur. Skripsi. Universitas Airlangga, Surabaya

Ariana DN (2011). Faktor Risiko Kejadian Persalinan Premature (Studi di Bidan Praktek Mandiri Wilayah Kerja Puskesmas Geyer Dan Puskesmas Toroh Tahun 2011). Jurnal Unimus. Vol. 1 (1); 1-13.

Bobak. (2008). Buku Ajar Keperawatan Maternitas. EGC, Jakarta.

Cunningham. (2008). Obstretri Williams. EGC, Jakarta.

Dinas Kesehatan Bengkulu Selatan 2014. Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkulu Selatan. Bengkulu Selatan.

Edrin. (2012). Gambaran Karakteristik Ibu Hamil Pada Persalinan Preterm di RS. Dr. M. Djamil Padang pada Tahun 2012.  Jurnal Kesehatan Andalas. Vol. 3(3): 311-317.

Kartikasari. (2012). Hubungan Paritas Dengan Persalinan Preterm di RSUD Dr. Soegiri Lamongan. SURYA 61 Vol.01 (XVII): 61-66.

Kementerian Kesehatan RI. (2013). Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Balita (AKBA). Jakarta.

Medical record. (2014). Medical record RSUD Hasanuddin Damrah Manna. Bengkulu Selatan.

Notoatmodjo. (2007). Kesehatan Masyarakat : Ilmu dan Seni. Rineka Cipta, Jakarta.

Wijayanti. (2011). Hubungan Usia dan Paritas Dengan Kejadian Partus Prematurus Di Rumah Sakit Panti Wilasa Citarum Semarang Tahun 2010. Jurnal Kebidanan Panti Wilasa. Vol. 2 (1); 1-8.

Wiknjosastro. (2007). Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka, Jakarta.

 

 

SK STRUKTUR KURIKULUM

 SURAT KEPUTUSAN

DIREKTUR AKADEMI KESEHATAN SAPTA BAKTI BENGKULU

Nomor :     .SK/AKKES.SB/V/2014

 

TENTANG

KURIKULUM OPERASIONAL PEREKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN

AKADEMI KESEHATAN SAPTA BAKTI BENGKULU

 

DIREKTUR AKADEMI KESEHATAN SAPTA BAKTI BENGKULU

 

Menimbang

:

Bahwa untuk menghasilkan tenaga perekam medis dan informasi kesehatan yang CAKAP (Cekatan, Amanah, Komunikatif, Aktif dan Profesional) dalam bidang perekam medis dan informasi kesehatan perlu menetapkan Kurikulum Operasional Perekam Medis dan Informasi Kesehatan Akademi Kesehatan Sapta Bakti Bengkulu.

 

 

 

 

Mengingat

:

 

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen

 

 

 

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi.

 

 

 

Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2014 Tentang Penyelenggaraan Perguruan Tinggi dan Pengelolaan Perguruan Tinggi.

 

 

 

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 49 Tahun 2014 Tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi.

 

 

 

Keputusan Menteri Kesehatan RI Noimor 377/Menkes/SK/III/2007 Tentang Standar Profesi Perekam Medis dan Informasi Kesehatan.

 

 

 

Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 108/D/0/2008 Tahun 2008 Tentang Pemberian Izin Penyelenggaraan Program Studi Keperawatan (D.III) dan Perubahan Nama Akademi Keperawatan Sapta Bakti Bengkulu Menjadi Akademi Kesehatan Sapta Bakti Bengkulu Diselenggarakan Yayasan Sapta Bakti Bengkulu.

 

 

 

Keputusan Dirjen DIKTI Nomor 077/P/2014 Tentang Izin Penyelenggaraan Program Studi Perekam Medis dan Informasi Kesehatan Program Diploma III (D-3) pada Akademi Kesehatan Sapta Bakti Bengkulu di Bengkulu yang diselenggarakan oleh Yayasan Sapta Bakti Bengkulu.

 

 

 

Statuta Akademi Kesehatan Sapta Bakti Bengkulu.

 

 

 

 

MEMUTUSKAN

Menetapkan

 

Pertama

:

Menetapkan Kurikulum Operasional Perekam Medis dan Informasi Kesehatan Akademi Kesehatan Sapta Bakti Bengkulu sebagaimana dalam lampiran surat keputusan ini.

Kedua

:

Kurikulum Operasional ini berlaku selama empat tahun sejak ditetapkan surat keputusan ini.

Ketiga

:

Segala biaya yang timbul akibat ditetapkannya surat keputusan ini dibebankan pada anggaran belanja pendidikan Program Studi DIII Perekam Medis dan Informasi Kesehatan Akademi Kesehatan Sapta Bakti Bengkulu.

Keempat

:

Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan, apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan dalam penetapan ini maka akan diperbaiki sebagaimana mestinya.

 

DITETAPKAN DI

:

BENGKULU

PADA TANGGAL

:

       MEI 2014

DIREKTUR

 

 

 

 

 

Hj. DJUSMALINAR, SKM, M.Kes

NIK. 2008.002

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tembusan:

  1. Yayasan Sapta Bakti Bengkulu
  2. Arsip

 

 


Lampiran

:

Surat Keputusan Direktur

Nomor

:

      SK/AKKES SB/V/2014

Tanggal

:

      Mei 2014

Perihal

:

Kurikulum Operasional Perekam Medis dan Informasi Kesehatan

Akademi Kesehatan Sapta Bakti Bengkulu

 

KURIKULUM OPERASIONAL PEREKAM MEDIS DAN NFORMASI KESEHATAN

AKADEMI KESEHATAN SAPTA BAKTI BENGKULU

 

Kurikulum Program Studi Perekam Medis dan Informasi Kesehatan mengacu pada Visi Misi Perekam Medis dan Informasi Kesehatan Akademi Kesehatan Sapta Bakti Bengkulu.

 

Visi:

“Menghasilkan Tenaga Perekam Medis dan Informasi Kesehatan yang CAKAP (Cekatan, Amanah, Komunikatif, Aktif dan Profesional) di Tingkat Provinsi Bengkulu dalam Bidang Perekam Medis dan Informasi Kesehatan Tahun 2018”

 

Misi:

  1. Menyelenggarakan proses pendidikan dan pengajaran yang berkualitas berbasis kompetensi sehingga dapat menghasikan lulusan yang CAKAP dalam bidang perekam medis dan informasi kesehatan.
  2. Menyelengarakan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat secara profesional bagi seluruh dosen perekam medis dan informasi kesehatan dalam rangka memecahkan masalah rekam medis dan informasi kesehatan.
  3. Menerapkan sistem penjaminan mutu Program Studi DIII Perekam Medis dan Infromasi Kesehatan sesuai dengan SNPI (Standar Nasional Pendidikan Indonesia) menuju manajemen yang berkualitas, efisien, efektivitas dan profesional.
  4. Membina kerjasama dan kemitraan dengan berbagai institusi pendidikan dan institusi pelayanan kesehatan baik lokal, nasional maupun internasional dalam rangka lebih mengembangkan wawasan, keterampilan dan pengelolaan pendidikan yang efisien dan efektif serta mampu mengantispas perkembangan kemajuan teknologi dan tuntutan konsumen.

 

Struktur Kurikulum Program Studi DIII Perekam Medis dan Informasi Kesehatan

 

NO

KODE

MATA KULIAH

SKS

BOBOT

T

P

K

Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK)

1

RMIK 1011

Pendidikan Agama

2

1

1

0

2

RMIK 1021

Pendidikan Pencasila dan Kewarganegaraan

3

2

1

0

3

RMIK 1031

Bahasa Indonesia

2

1

1

0

4

RMIK 1041

Bahasa Inggris I

2

1

1

0

5

RMIK 1052

Bahasa Inggris II

2

1

1

0

6

Mulok

Bahasa Inggris III

2

1

1

0

7

Mulok

Bahasa Inggris IV

2

1

1

0

8

Mulok

Bussinness English

2

1

1

0

J U M L A H

17

9

8

0

Mata Kuliah Penguasaan Ilmu dan Keterampilan (MKK)

9

RMIK 2412

SIK I

3

1

2

0

10

RMIK 2434

SIK III

2

1

1

0

11

RMIK 2063

Farmakologi

2

1

1

0

12

RMIK 2111

MIK I

2

1

1

0

13

RMIK 2622

TIK II

2

1

1

0

14

RMIK 2411

KKPMT I

6

3

3

0

15

RMIK 2213

MUK I

3

2

1

0

16

RMIK 2312

MMIK I

2

1

1

0

17

Mulok

Skill Lab Rekam Medis

3

0

3

0

18

Mulok

Kapita Selekta

2

1

1

0

19

Mulok

INA-CBG’s

2

1

1

0

J U M L A H

29

13

16

0

Mata Kuliah Keahlian Berkarya (MKB)

20

RMIK 3074

Metodelogi Penelitian Kesehatan

3

1

2

0

21

RMIK 3155

MIK V

3

1

1.5

0.5

22

RMIK 3611

TIK I

3

1

2

0

23

RMIK 1052

TIK III

2

1

1

0

24

RMIK 3643

TIK IV

2

1

1

0

25

RMIK 3654

TIK V

2

1

1

0

26

RMIK 3665

TIK VI

2

1

1

0

27

RMIK 3133

MIK III

3

1

1

1

28

RMIK 3122

KKPMT II

4

2

1

1

29

RMIK 3433

KKPMT III

5

2

2.5

0.5

30

RMIK 3444

KKPMT IV

5

2

2

1

31

RMIK 3455

KKPMT V

2

1

0.5

0.5

32

RMIK 3465

KKPMT VI

2

1

0.5

0.5

33

RMIK 3475

KKPMT VII

2

1

1

0

34

RMIK 3324

MMIK II

2

1

0.5

0.5

35

RMIK 3335

MMIK III

2

1

0.5

0.5

36

RMIK 3122

MIK II

4

2

1

1

37

Mulok

Pemprograman Kesehatan

3

1

2

0

38

Mulok

Komputerisasi Data Rekam Medis (KDRM)

2

1

1

0

J U M L A H

53

23

23

7

Mata Kuliah Sikap dan Prilaku Berkarya (MPB)

39

RMIK 4423

SIK II

3

1

1.5

0.5

40

RMIK 4224

MUK II

3

1

1.5

0.5

41

RMIK 4225

MUK III

3

1

2

0

42

Mulok

Pasikologi

2

1

1

0

J U M L A H

11

4

6

1

Mata Kuliah Berkehidupan Bermasyarakat (MBB)

43

RMIK 5144

MIK IV

2

1

1

0

44

RMIK 5056

Karya Tulis Ilmiah (KTI)

4

0

0

4

45

Mulok

Etika Profesi dan Hukum Kesehatan

2

1

1

0

46

Mulok

Komunikasi Efektif

2

1

1

0

J U M L A H

10

3

3

4

T O T A L  J U M L A H

120

52

56

12

P E R S E N T A S E (%)

100

43.33

46.67

10

100

43.33

56.67

 

Distribusi Mata Kuliah

Semester I

NO

KODE

MATA KULIAH

SKS

BOBOT

T

P

K

 

RMIK 1011

Pendidikan Agama

2

1

1

0

 

RMIK 1021

Pendidikan Pencasila dan Kewarganegaraan

3

2

1

0

 

RMIK 1031

Bahasa Indonesia

2

1

1

0

 

RMIK 1041

Bahasa Inggris I

2

1

1

0

 

RMIK 2111

MIK I

2

1

1

0

 

RMIK 2411

KKPMT I

6

3

3

0

 

RMIK 3611

TIK I

3

1

2

0

 

Mulok

Etika Profesi dan Hukum Kesehatan

2

1

1

0

J U M L A H

22

11

11

0

 

Semester II

NO

KODE

MATA KULIAH

SKS

BOBOT

T

P

K

 

RMIK 1052

Bahasa Inggris II

2

1

1

0

 

RMIK 2412

SIK I

3

1

2

0

 

RMIK 2622

TIK II

2

1

1

0

 

RMIK 3122

MIK II

4

2

1

1

 

RMIK 3122

KKPMT II

4

2

1

1

 

RMIK 1052

TIK III

2

1

1

0

 

Mulok

Komunikasi Efektif

2

1

1

0

 

Mulok

Pemprograman Kesehatan

3

1

2

0

J U M L A H

22

10

10

2

 

Semester III

NO

KODE

MATA KULIAH

SKS

BOBOT

T

P

K

 

RMIK 2063

Farmakologi

2

1

1

0

 

RMIK 2213

MUK I

3

2

1

0

 

RMIK 2312

MMIK I

2

1

1

0

 

RMIK 3133

MIK III

3

1

1

1

 

RMIK 3433

KKPMT III

5

2

2.5

0.5

 

RMIK 3643

TIK IV

2

1

1

0

 

RMIK 4423

SIK II

3

1

1.5

0.5

 

Mulok

Bahasa Inggris III

2

1

1

0

J U M L A H

22

10

10

2

 

Semester IV

NO

KODE

MATA KULIAH

SKS

BOBOT

T

P

K

 

RMIK 2434

SIK III

2

1

1

0

 

RMIK 3074

Metodelogi Penelitian Kesehatan

3

1

2

0

 

RMIK 3324

MMIK II

2

1

0.5

0.5

 

RMIK 3444

KKPMT IV

5

2

2

1

 

RMIK 3654

TIK V

2

1

1

0

 

RMIK 4224

MUK II

3

1

1.5

0.5

 

RMIK 5144

MIK IV

2

1

1

0

 

Mulok

Bahasa Inggris IV

2

1

1

0

 

Mulok

Komputerisasi Data Rekam Medis (KDRM)

2

1

1

0

J U M L A H

23

10

11

2

 

Semester V

NO

KODE

MATA KULIAH

SKS

BOBOT

T

P

K

 

RMIK 3155

MIK V

3

1

1.5

0.5

 

RMIK 3335

MMIK III

2

1

0.5

0.5

 

RMIK 3455

KKPMT V

2

1

0.5

0.5

 

RMIK 3465

KKPMT VI

2

1

0.5

0.5

 

RMIK 3475

KKPMT VII

2

1

1

0

 

RMIK 4225

MUK III

3

1

2

0

 

RMIK 3665

TIK VI

2

1

1

0

 

Mulok

Skill Lab Rekam Medis

3

0

3

0

 

Mulok

Bussinness English

2

1

1

0

J U M L A H

21

9

10

2

 

Semester VI

NO

KODE

MATA KULIAH

SKS

BOBOT

T

P

K

 

RMIK 5056

Karya Tulis Ilmiah (KTI)

4

0

0

4

 

Mulok

Pasikologi

2

1

1

0

 

Mulok

Kapita Selekta

2

1

1

0

 

Mulok

INA-CBG’s

2

1

1

0

J U M L A H

10

3

3

4

 

DITETAPKAN DI

:

BENGKULU

PADA TANGGAL

:

       MEI 2014

DIREKTUR

 

 

 

 

Hj. DJUSMALINAR, SKM, M.Kes

NIK. 2008.002

 

SK PENETAPAN KOMPETENSI LULUSAN REKAM MEDIS

 SURAT KEPUTUSAN

DIREKTUR AKADEMI KESEHATAN SAPTA BAKTI BENGKULU

Nomor : 602.SK/Akkes SB/VIII/2014

 

TENTANG

KOMPETENSI LULUSAN PEREKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN

AKADEMI KESEHATAN SAPTA BAKTI BENGKULU

 

DIREKTUR AKADEMI KESEHATAN SAPTA BAKTI BENGKULU

 

Menimbang

:

Bahwa untuk menghasilkan tenaga perekam medis dan informasi kesehatan yang CAKAP (Cekatan, Amanah, Komunikatif, Aktif dan Profesional) dalam bidang perekam medis dan informasi kesehatan perlu menetapkan Kompetensi Lulusan Perekam Medis dan Informasi Kesehatan Akademi Kesehatan Sapta Bakti Bengkulu.

 

 

 

 

Mengingat

:

 

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen

 

 

 

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi.

 

 

 

Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2014 Tentang Penyelenggaraan Perguruan Tinggi dan Pengelolaan Perguruan Tinggi.

 

 

 

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 49 Tahun 2014 Tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi.

 

 

 

Keputusan Menteri Kesehatan RI Noimor 377/Menkes/SK/III/2007 Tentang Standar Profesi Perekam Medis dan Informasi Kesehatan.

 

 

 

Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 108/D/0/2008 Tahun 2008 Tentang Pemberian Izin Penyelenggaraan Program Studi Keperawatan (D.III) dan Perubahan Nama Akademi Keperawatan Sapta Bakti Bengkulu Menjadi Akademi Kesehatan Sapta Bakti Bengkulu Diselenggarakan Yayasan Sapta Bakti Bengkulu.

 

 

 

Keputusan Dirjen DIKTI Nomor 077/P/2014 Tentang Izin Penyelenggaraan Program Studi Perekam Medis dan Informasi Kesehatan Program Diploma III (D-3) pada Akademi Kesehatan Sapta Bakti Bengkulu di Bengkulu yang diselenggarakan oleh Yayasan Sapta Bakti Bengkulu.

 

 

 

Statuta Akademi Kesehatan Sapta Bakti Bengkulu.

 

 

 

 

MEMUTUSKAN

Menetapkan

 

Pertama

:

Mengesahkan Kompetensi Lulusan Perekam Medis dan Informasi Kesehatan Akademi Kesehatan Sapta Bakti Bengkulu sebagai berikut:

 

Kompetensi Utama Lulusan

  1. Lulusan mampu menetapkan kode penyakit dan tindakan dengan cepat sesuai klasifikasi internasional tentang penyakit dan tindakan medis dalam pelayanan dan manajemen kesehatan.
  2. Lulusan mampu melakukan tugas dalam memberikan pelayanan rekam medis dan informasi kesehatan yang bermutu tinggi dengan memperhatikan perundangan dan etika profesi yang berlaku.
  3. Lulusan mampu mengelola rekam medis dan informasi kesehatan untuk memenuhi kebutuhan layanan medis, administrasi dan kebutuhan informasi kesehatan sebagai bahan pengambilan keputusan di bidang kesehatan.
  4. Lulusan mampu mengelola, merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi dan menilai mutu rekam medis.
  5. Lulusan mampu menggunakan statistic kesehatan untuk menghasilkan informasi dan perkiraan yang bermutu tinggi sebagai dasar perencanaan dan pengambilan keputusan di bidang pelayanan kesehatan.

 

Kompetensi Pendukung Lulusan

  1. Lulusan mampu mengelola sumber daya yang tersedia di unit kerja rekam medis untuk dapat mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang informasi kesehatan.
  2. Lulusan mampu berkolaborasi inter dan intra profesi yang terkait dalam pelayanan kesehatan.
  3. Lulusan mampu menggunakan bahasa internasional (Bahasa Inggris pasif dan aktif).

 

Kompetensi Pilihan Lulusan

  1. Lulusan mampu berkomunikasi efektif baik secara lisan  maupun tulisan serta berjiwa pemimpin.
  2. Lulusan mampu berjiwa enterpreuner.
  3. Lulusan mampu melaksanakan penelitidan sebagai penerapan metode ilmiah dan sikap ilmuawan serta mampu mengkomunikasikan dan mempertanggung jawabkan hasil penelitian sesuai kaidah keilmuan.

Kedua

:

Segala biaya yang timbul akibat ditetapkannya surat keputusan ini dibebankan pada anggaran belanja pendidikan Program Studi DIII Perekam Medis dan Informasi Kesehatan Akademi Kesehatan Sapta Bakti Bengkulu.

Ketiga

:

Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan, apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan dalam penetapan ini maka akan diperbaiki sebagaimana mestinya.

 

DITETAPKAN DI

:

BENGKULU

PADA TANGGAL

:

       AGUSTUS 2014

DIREKTUR

 

 

 

 

 

Hj. DJUSMALINAR, SKM, M.Kes

NIK. 2008.002

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tembusan:

  1. Yayasan Sapta Bakti Bengkulu
  2. Arsip

SK PENINJAUAN KURIKULUM

 SURAT KEPUTUSAN

DIREKTUR AKADEMI KESEHATAN SAPTA BAKTI BENGKULU

Nomor :     .SK/AKKES.SB/VIII/2016

 

TENTANG

KURIKULUM OPERASIONAL PEREKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN

AKADEMI KESEHATAN SAPTA BAKTI BENGKULU

 

DIREKTUR AKADEMI KESEHATAN SAPTA BAKTI BENGKULU

 

Menimbang

:

 

Bahwa untuk menghasilkan tenaga perekam medis dan informasi kesehatan yang CAKAP (Cekatan, Amanah, Komunikatif, Aktif dan Profesional) dalam bidang perekam medis dan informasi kesehatan perlu menetapkan Kurikulum Operasional Perekam Medis dan Informasi Kesehatan Akademi Kesehatan Sapta Bakti Bengkulu.

 

 

 

Bahwa untuk menyelesaikan dengan perubahan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi diperlukan penyesuaian dan perubahan terhadap Kurikulum Operasional Perekam Medis dan Informasi Kesehatan 2014.

 

 

 

 

Mengingat

:

 

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen

 

 

 

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi.

 

 

 

Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2014 Tentang Penyelenggaraan Perguruan Tinggi dan Pengelolaan Perguruan Tinggi.

 

 

 

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 49 Tahun 2014 Tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi.

 

 

 

Keputusan Menteri Kesehatan RI Noimor 377/Menkes/SK/III/2007 Tentang Standar Profesi Perekam Medis dan Informasi Kesehatan.

 

 

 

Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 108/D/0/2008 Tahun 2008 Tentang Pemberian Izin Penyelenggaraan Program Studi Keperawatan (D.III) dan Perubahan Nama Akademi Keperawatan Sapta Bakti Bengkulu Menjadi Akademi Kesehatan Sapta Bakti Bengkulu Diselenggarakan Yayasan Sapta Bakti Bengkulu.

 

 

 

Keputusan Dirjen DIKTI Nomor 077/P/2014 Tentang Izin Penyelenggaraan Program Studi Perekam Medis dan Informasi Kesehatan Program Diploma III (D-3) pada Akademi Kesehatan Sapta Bakti Bengkulu di Bengkulu yang diselenggarakan oleh Yayasan Sapta Bakti Bengkulu.

 

 

 

Statuta Akademi Kesehatan Sapta Bakti Bengkulu.

 

 

 

 

MEMUTUSKAN

Menetapkan

 

Pertama

:

Menetapkan Kurikulum Operasional Perekam Medis dan Informasi Kesehatan Akademi Kesehatan Sapta Bakti Bengkulu sebagaimana dalam lampiran surat keputusan ini.

Kedua

:

Kurikulum Operasional ini berlaku selama empat tahun sejak ditetapkan surat keputusan ini.

Ketiga

:

Segala biaya yang timbul akibat ditetapkannya surat keputusan ini dibebankan pada anggaran belanja pendidikan Program Studi DIII Perekam Medis dan Informasi Kesehatan Akademi Kesehatan Sapta Bakti Bengkulu.

Keempat

:

Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan, apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan dalam penetapan ini maka akan diperbaiki sebagaimana mestinya.

 

DITETAPKAN DI

:

BENGKULU

PADA TANGGAL

:

       AGUSTUS 2016

DIREKTUR

 

 

 

 

 

Hj. DJUSMALINAR, SKM, M.Kes

NIK. 2008.002

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tembusan:

  1. Yayasan Sapta Bakti Bengkulu
  2. Arsip

 

 


Lampiran

:

Surat Keputusan Direktur

Nomor

:

      SK/AKKES SB/VIII/2016

Tanggal

:

      Agustus 2016

Perihal

:

Kurikulum Operasional Perekam Medis dan Informasi Kesehatan

Akademi Kesehatan Sapta Bakti Bengkulu

 

KURIKULUM OPERASIONAL PEREKAM MEDIS DAN NFORMASI KESEHATAN

AKADEMI KESEHATAN SAPTA BAKTI BENGKULU

 

Kurikulum Program Studi Perekam Medis dan Informasi Kesehatan mengacu pada Visi Misi Perekam Medis dan Informasi Kesehatan Akademi Kesehatan Sapta Bakti Bengkulu.

 

Visi:

“Menghasilkan Tenaga Perekam Medis dan Informasi Kesehatan yang CAKAP (Cekatan, Amanah, Komunikatif, Aktif dan Profesional) di Tingkat Provinsi Bengkulu dalam Bidang Perekam Medis dan Informasi Kesehatan Tahun 2018”

 

Misi:

  1. Menyelenggarakan proses pendidikan dan pengajaran yang berkualitas berbasis kompetensi sehingga dapat menghasikan lulusan yang CAKAP dalam bidang perekam medis dan informasi kesehatan.
  2. Menyelengarakan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat secara profesional bagi seluruh dosen perekam medis dan informasi kesehatan dalam rangka memecahkan masalah rekam medis dan informasi kesehatan.
  3. Menerapkan sistem penjaminan mutu Program Studi DIII Perekam Medis dan Infromasi Kesehatan sesuai dengan SNPI (Standar Nasional Pendidikan Indonesia) menuju manajemen yang berkualitas, efisien, efektivitas dan profesional.
  4. Membina kerjasama dan kemitraan dengan berbagai institusi pendidikan dan institusi pelayanan kesehatan baik lokal, nasional maupun internasional dalam rangka lebih mengembangkan wawasan, keterampilan dan pengelolaan pendidikan yang efisien dan efektif serta mampu mengantispas perkembangan kemajuan teknologi dan tuntutan konsumen.

 

Penyusunan Kurikulum Program Studi DIII Perekam Medis dan Informasi Kesehatan memperhatikan masukan dari:

  1. Asosiasi Perguruan Tinggi Perekam Medis dan Informasi Kesehatan (APTIRMIKI).
  2. Pengguna lulusan.
  3. Para dosen di lingkungan Program Studi DIII Perekam Medis dan Informasi Kesehatan Akademi Kesehatan Sapta Bakti Bengkulu.
  4. Trend keilmuan yang berkembang dalam era saat kurikulum yang berlaku.

 

serta berpedoman pada:

  1. KKNI
  2. Visi Misi Akademi Kesehatan Sapta Bakti Bengkulu dan Program Studi DIII Perekam Medis dan Informasi Kesehatan

 

Learning IOutcome untuk Lulusan DIII (level-5)

Lulusan Program Studi DIII Perekam Medis dan Informasi Kesehatan Akademi Kesehatan Sapta Bakti Bengkulu mampu:

  1. Menetapkan kode penyakit dan tindakan dengan cepat sesuai klasifikasi internasional tentang penyakit dan tindakan medis dalam pelayanan dan manajemen kesehatan.
  2. Melakukan tugas dalam memberikan pelayanan rekam medis dan informasi kesehatan yang bermutu tinggi dengan memperhatikan perundangan dan etika profesi yang berlaku.
  3. Mengelola rekam medis dan informasi kesehatan untuk memenuhi kebutuhan layanan medis, administrasi dan kebutuhan informasi kesehatan sebagai bahan pengambilan keputusan di bidang kesehatan.
  4. Mengelola, merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi dan menilai mutu rekam medis.
  5. Menggunakan statistic kesehatan untuk menghasilkan informasi dan perkiraan yang bermutu tinggi sebagai dasar perencanaan dan pengambilan keputusan di bidang pelayanan kesehatan.
  6. Mengelola sumber daya yang tersedia di unit kerja rekam medis untuk dapat mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang informasi kesehatan.
  7. Berkolaborasi inter dan intra profesi yang terkait dalam pelayanan kesehatan.
  8. Menggunakan bahasa internasional (Bahasa Inggris pasif dan aktif).
  9. Berkomunikasi efektif baik secara lisan  maupun tulisan serta berjiwa pemimpin.

 

  1. Berjiwa enterpreuner.
  2. Melaksanakan penelitian sebagai penerapan metode ilmiah dan sikap ilmuawan serta mampu mengkomunikasikan dan mempertanggung jawabkan hasil penelitian sesuai kaidah keilmuan.

 

Hubungan Kompetensi Lulusan terhadap Parameter KKNI

 

NO

KOMPETENSI LULUSAN

PARAMETER KKNI

a

b

c

d

 

Menetapkan kode penyakit dan tindakan dengan cepat sesuai klasifikasi internasional tentang penyakit dan tindakan medis dalam pelayanan dan manajemen kesehatan.

 

Melakukan tugas dalam memberikan pelayanan rekam medis dan informasi kesehatan yang bermutu tinggi dengan memperhatikan perundangan dan etika profesi yang berlaku.

 

Mengelola rekam medis dan informasi kesehatan untuk memenuhi kebutuhan layanan medis, administrasi dan kebutuhan informasi kesehatan sebagai bahan pengambilan keputusan di bidang kesehatan.

 

Mengelola, merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi dan menilai mutu rekam medis.

 

Menggunakan statistic kesehatan untuk menghasilkan informasi dan perkiraan yang bermutu tinggi sebagai dasar perencanaan dan pengambilan keputusan di bidang pelayanan kesehatan.

 

Mengelola sumber daya yang tersedia di unit kerja rekam medis untuk dapat mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang informasi kesehatan.

 

Berkolaborasi inter dan intra profesi yang terkait dalam pelayanan kesehatan.

 

Menggunakan bahasa internasional (Bahasa Inggris pasif dan aktif).

 

Berkomunikasi efektif baik secara lisan  maupun tulisan serta berjiwa pemimpin.

 

Berjiwa enterpreuner.

 

Melaksanakan penelitian sebagai penerapan metode ilmiah dan sikap ilmuawan serta mampu mengkomunikasikan dan mempertanggung jawabkan hasil penelitian sesuai kaidah keilmuan.

 

Struktur Kurikulum Program Studi DIII Perekam Medis dan Informasi Kesehatan

 

NO

KODE

MATA KULIAH

SKS

BOBOT

T

P

K

Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK)

1

RMSB 4101

Pendidikan Agama

2

1

1

0

2

RMSB 1138

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

2

1

1

0

3

RMSB 5103

Bahasa Indonesia

2

1

1

0

4

RMSB 1104

Bahasa Inggris I

2

1

1

0

5

RMSB 2105

Bahasa Inggris II

2

1

1

0

6

RMSB 3606

Bahasa Inggris III

2

1

1

0

7

RMSB 4607

Bahasa Inggris IV

2

1

1

0

8

RMSB 5608

Bahasa Inggris V

2

1

1

0

J U M L A H

16

8

8

0

Mata Kuliah Penguasaan Ilmu dan Keterampilan (MKK)

9

RMSB 2210

Biostatistik

3

1

2

0

10

RMSB 4211

Epidemiologi

2

1

1

0

11

RMSB 3213

Farmakologi

2

1

1

0

12

RMSB 1125

Perekam Medis dan Informasi Kesehatan Dasar

2

1

1

0

13

RMSB 2249

Aplikasi Perangkat Lunak

2

1

1

0

14

RMSB 1202

Anatomi dan Patofisiologi

4

2

2

0

15

RMSB 3209

Biologi dan Genitika

2

1

1

0

16

RMSB 2234

Mikrobiologi dan parasitologi

2

1

1

0

17

RMSB 1253

Terminologi Medis I

3

1

2

0

18

RMSB 2254

Terminologi Medis II

2

1

1

0

19

RMSB 2230

Organisasi dan Manajemen

2

1

1

0

20

RMSB 2235

Manajemen Mutu Perekam Medis dan Informasi Kesehatan

2

1

1

0

21

RMSB 5546

Skill Lab Rekam Medis

3

0

3

0

22

RMSB 5615

Kapita Selekta

2

1

1

0

23

RMSB 5614

INA-CBG’s

2

1

1

0

24

RMSB 3617

Kewirausahaan

2

1

1

0

J U M L A H

37

20

17

0

Mata Kuliah Keahlian Berkarya (MKB)

25

RMSB 4333

Metodelogi Penelitian Kesehatan

3

1

2

0

26

RMSB 5329

Sistem Pembiayaan Kesehatan

2

1

1

0

27

RMSB 1348

Aplikasi Komputer Dasar

3

1

2

0

28

RMSB 3350

Algoritma dan Pemprograman

2

1

1

0

29

RMSB 4351

Basis Data                                                                                                   

2

1

1

0

30

RMSB 5352

Jaringan Komputer

2

1

1

0

31

RMSB 6353

Analisis dan Rencana Sistem Informasi Kesehatan

2

1

1

0

32

RMSB 3327

Desain Formulir Perekam Medis dan Informasi Kesehatan

2

1

1

0

33

RMSB 1318

Klasifikasi Kodefikasi I

3

1

2

0

34

RMSB 2319

Klasifikasi Kodefikasi II

2

1

1

0

35

RMSB 3320

Klasifikasi Kodefikasi III

2

1

1

0

36

RMSB 4321

Klasifikasi Kodefikasi IV

2

1

1

0

37

RMSB 5322

Klasifikasi Kodefikasi V

2

1

1

0

38

RMSB 3336

Akreditasi Perekam Medis dan Informasi Kesehatan

2

1

1

0

39

RMSB 4337

Analisis Kuantitatif dan Kualitatif

2

1

1

0

40

RMSB 2326

Pengelolaan Perekam Medis dan Informasi Kesehatan

3

1

2

0

41

RMSB 4624

Komputerisasi Data Rekam Medis

2

1

1

0

J U M L A H

38

17

21

0

Mata Kuliah Sikap dan Prilaku Berkarya (MPB)

42

RMSB 3448

Statistik Pelayanan Kesehatan

2

1

1

0

43

RMSB 3431

Perencanaan Sumber Daya Manusia Fasilitas Pelayanan Kesehatan

2

1

1

0

44

RMSB 4432

Perencanaan Anggaran Fasilitas Pelayanan Kesehatan

3

1

2

0

45

RMSB 5645

Psikologi Sosial

2

1

1

0

J U M L A H

9

4

5

0

Mata Kuliah Berkehidupan Bermasyarakat (MBB)

46

RMSB 4528

Peraturan Perundang-Undangan Perekam Medis dan Informasi Kesehatan

2

1

1

0

47

RMSB 6516

Karya Tulis Ilmiah

4

0

0

4

48

RMSB 2540

Praktik Lapangan I

2

0

0

2

49

RMSB 3541

Praktik Lapangan II

2

0

0

2

50

RMSB 4542

Praktik Lapangan III

2

0

0

2

51

RMSB 5543

Praktik Lapangan IV

2

0

0

2

52

RMSB 6544

Praktik Lapangan V

2

0

0

2

53

RMSB 6612

Etika Profesi

2

1

1

0

54

RMSB 1623

Komunikasi Rekam Medis

2

1

1

0

J U M L A H

20

3

3

14

T O T A L  J U M L A H

120

48

58

14

P E R S E N T A S E (%)

100

40

48.33

11.67

100

40

60

 

Distribusi Mata Kuliah

 

Semester I

NO

KODE

MATA KULIAH

SKS

BOBOT

T

P

K

 

RMSB 1138

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

2

1

1

0

 

RMSB 1104

Bahasa Inggris I

2

1

1

0

 

RMSB 1125

Perekam Medis dan Informasi Kesehatan Dasar

2

1

1

0

 

RMSB 1348

Aplikasi Komputer Dasar

3

1

2

0

 

RMSB 1202

Anatomi dan Patofisiologi

4

2

2

0

 

RMSB 1253

Terminologi Medis I

3

1

2

0

 

RMSB 1318

Klasifikasi Kodefikasi I

3

1

2

0

 

RMSB 1623

Komunikasi Rekam Medis

2

1

1

0

J U M L A H

21

9

12

0

 

Semester II

NO

KODE

MATA KULIAH

SKS

BOBOT

T

P

K

 

RMSB 2105

Bahasa Inggris II

2

1

1

0

 

RMSB 2326

Pengelolaan Perekam Medis dan Informasi Kesehatan

3

2

1

0

 

RMSB 2249

Aplikasi Perangkat Lunak

2

1

1

0

 

RMSB 2254

Terminologi Medis II

2

1

1

0

 

RMSB 2319

Klasifikasi Kodefikasi II

2

1

1

0

 

RMSB 2210

BIostatistik

3

1

2

0

 

RMSB 2235

Manajemen Mutu Perekam Medis dan Informasi Kesehatan

2

1

1

0

 

RMSB 2230

Organisasi dan Manajemen

2

1

1

0

 

RMSB 2234

Mikrobiologi dan parasitologi

2

1

1

0

 

RMSB 2540

Praktik Lapangan I

2

0

0

2

J U M L A H

22

10

10

2

 

Semester III

NO

KODE

MATA KULIAH

SKS

BOBOT

T

P

K

 

RMSB 3606

Bahasa Inggris III

2

1

1

0

 

RMSB 3327

Desain Formulir Perekam Medis dan Informasi Kesehatan

2

1

1

0

 

RMSB 3350

Algoritma dan Pemprograman

2

1

1

0

 

RMSB 3320

Klasifikasi Kodefikasi III

2

1

1

0

 

RMSB 3448

Statistik Pelayanan Kesehatan

2

1

1

0

 

RMSB 3336

Akreditasi Perekam Medis dan Informasi Kesehatan

2

1

1

0

 

RMSB 3431

Perencanaan Sumber Daya Manusia Fasilitas Pelayanan Kesehatan

2

1

1

0

 

RMSB 3213

Farmakologi

2

1

1

0

 

RMSB 3617

Kewirausahaan

2

1

1

0

 

RMSB 3209

Biologi dan Genitika

2

1

1

0

 

RMSB 3541

Praktik Lapangan II

2

0

0

2

J U M L A H

22

10

10

2

 

Semester IV

NO

KODE

MATA KULIAH

SKS

BOBOT

T

P

K

 

RMSB 4607

Bahasa Inggris IV

2

1

1

0

 

RMSB 4528

Peraturan Perundang-Undangan Perekam Medis dan Informasi Kesehatan

2

1

1

0

 

RMSB 4351

Basis Data                                                                                                   

2

1

1

0

 

RMSB 4321

Klasifikasi Kodefikasi IV

2

1

1

0

 

RMSB 4211

Epidemiologi

2

1

1

0

 

RMSB 4337

Analisis Kuantitatif dan Kualitatif

2

1

1

0

 

RMSB 4432

Perencanaan Anggaran Fasilitas Pelayanan Kesehatan

3

1

2

0

 

RMSB 4624

Komputerisasi Data Rekam Medis

2

1

1

0

 

RMSB 4101

Pendidikan Agama

2

1

1

0

 

RMSB 4333

Metodelogi Penelitian Kesehatan

3

1

2

0

 

RMSB 4542

Praktik Lapangan III

2

0

0

2

J U M L A H

24

10

12

2

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Semester V

NO

KODE

MATA KULIAH

SKS

BOBOT

T

P

K

 

RMSB 5329

Sistem Pembiayaan Kesehatan

2

1

1

0

 

RMSB 5352

Jaringan Komputer

2

1

1

0

 

RMSB 5322

Klasifikasi Kodefikasi V

2

1

1

0

 

RMSB 5546

Skill Lab Rekam Medis

3

0

3

0

 

RMSB 5103

Bahasa Indonesia

2

1

1

0

 

RMSB 5645

Psikologi Sosial

2

1

1

0

 

RMSB 5614

INA-CBG’s

2

1

1

0

 

RMSB 5608

Bahasa Inggris V

2

1

1

0

 

RMSB 5615

Kapita Selekta

2

1

1

0

 

RMSB 5543

Praktik Lapangan IV

2

0

0

2

J U M L A H

21

8

11

2

 

Semester VI

NO

KODE

MATA KULIAH

SKS

BOBOT

T

P

K

 

RMSB 6516

Karya Tulis Ilmiah

4

0

0

4

 

RMSB 6353

Analisis dan Rencana Sistem Informasi Kesehatan

2

1

1

0

 

RMSB 6544

Praktik Lapangan V

2

0

0

2

 

RMSB 6612

Etika Profesi

2

1

1

0

J U M L A H

10

2

2

6

 

DITETAPKAN DI

:

BENGKULU

PADA TANGGAL

:

       AGUSTUS 2016

DIREKTUR

 

 

 

 

 

Hj. DJUSMALINAR, SKM, M.Kes

NIK. 2008.002

 

HUBUNGAN NILAI TROMBOSIT DAN HEMATOKRIT DENGAN LAMA HARI RAWAT PASIEN DEMAM DENGUE DIRUANG C2 MELATI RSUD Dr.M. YUNUS BENGKULU TAHUN 2009


Dengue fever is a viral infectious disease that is transmitted through the bite of aedes mosquito agypti which can lead to death especially in children. Laboratory tests on the hematocrit and platelet counts in patients with DHF can determine whether patients may be discharged from the hospital. Hematocrit values within normal limits with platelet counts ≥ 100.000/mm3 within 24 hours will mepercepat healing and shorten the day care. From the initial survey conducted at Dr. M. Yunus Bengkulu, there were 70 patients suffering from dengue fever, 2 of them died, with a value of platelets, hematocrit, and length of stay is varied. The purpose of this study was to determine the relationship between platelet and hematocrit values with length of stay of patients of DHF in the space C2 (Jasmine) Dr. M. Yunus Bengkulu. Data used in the research is secondary data from month 1 January to 31 December 2009 with complete data collection format. The design used was an analytical survey with cross secsional. The total number of samples of 70 people diagnosed with dengue. Data obtained to be processed and univariate analysis to see the picture of the frequency distribution and bivariate linear regression correlation test was used to determine the relationship between 2 variables, and to know what kind of relationship between 2 variables used linear regression analysis. The results showed a significant relationship between the value of platelets with length of stay with p <0005 (0003) with the strength and direction korealasi correlation was negative and there was no relationship between hematocrit value with length of stay of patients of DHF with p> 0.005 (0,549) .

Demam berdarah dengue ( DBD ) adalah penyakit infeksi virus yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes agypti. Biasanya ditandai dengan demam yang bersifat bifasik Selama 2-7 hari, ptechie dan adanya manifestasi perdarahan. Penyakit Demam Berdarah Dengue ( DBD ) sampai saat ini merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia. Jumlah penderita dan luas daerah penyebarannya semakin bertambah seiring dengan meningkatnya morbiditas dan kepadatan penduduk.
Dengue haemoragic fever ( DHF ) dapat menyerang semua orang dan dapat mengakibatkan kematian, terutama pada anak. Penyakit ini juga sering menimbulkan kejadian luar biasa atau wabah. Kematian oleh demam dengue hampir tidak ada sebaliknya pada DHF atau dengue shock syndrome ( DSS ) mortalitasnya cukup tinggi. Penelitian pada orang dewasa di Surabaya, dan Jakarta memperlihatkan bahwa prognosis dan perjalanan penyakit umumnya lebih ringan dibandingkan pada anak-anak (Hendarwanto, 1996).
Demam berdarah dengue menduduki peringkat tertinggi diantara penyakit infeksius yang baru timbul kembali dalam kesehatan masyarakat. Setiap tahun diperkirakan 20.000.000 orang terinfeksi virus dengue dan 0,4 % tersebut adalah anak-anak menjadi korban dalam virus ini. Namun pengobatan dini dan tepat dapat secara signifikan mengurangi keparahan penyakit dan mencegah akibat yang fatal. Selain itu tindakan yang efektif dengan biaya yang terjangkau dapat diterapkan pada masyarakat dan keluarga.
Jumlah penderita demam berdarah dengue di Indonesia tahun 2005 mencapai 136.399 orang, dari jumlah tersebut 0,9 % penderita meninggal dunia (Emawati, 2009) Di Provinsi Bengkulu penyakit Demam berdarah dengue (DBD) sering muncul sebagai kejadian luar biasa (KLB) dengan angka kesakitan dan kematian yang relative tinggi. Angka kesakitan DBD di Provinsi Bengkulu Tahun 2007 sebesar 16,82 per 100.000 penduduk. Kasus DBD dari hasil laporan dinkes kabupaten/kota ditemui sebanyak 272 kasus. Kasus terbanyak terjadi dikota Bengkulu dengan 170 kasus (Profil kesehatan Propinsi Bengkulu Tahun 2007).
Perawatan DBD tidak memerlukan waktu yang lama, asalkan fase kritis sudah lewat. Makin tinggi derajatnya makin lama pasien itu dirawat. Kriteria pemulangan Pasien dengan DBD yaitu : tidak demam selama 24 jam, tanpa anti piretik, nafsu makan membaik, secara klinis tampak perbaikan, hematokrit stabil, tiga hari setelah syok teratasi, trombosit >50.000mm3, tidak dijumpai distress pernafasan (Purnamawati, 2008).
Hematokrit (HT) adalah angka yang menunjukkan persentasi zat padat dalam darah terhadap cairan darah. Dengan demikian jika terjadi perembesan cairan keluar dari pembuluh darah, sementara bagian padatnya tetap dalam pembuluh darah, akan terjadi peningkatan kadar hematokrit (Ganong, 2003). Pada DBD, Hematokrit meningkat, hal ini terjadi karena terjadi perembesan cairan keluar dari pembuluh darah sehingga darah menjadi kental. (Alan, 2006). Meningkatnya hematokrit ≥ 20 % dari hematokrit awal, menandakan kebocoran plasma, hal ini menunjukkan bahwa tubuh mengalami deficit cairan sebanyak 5 % (Sudoyo, 2007), Keadaan dehidrasi akibat demam berdarah akan menyebabkan suplay darah keginjal menurun, yang berpotensi terjadinya gagal ginjal pre-renal yang bersifat akut (Ahmad, 2002 ).
Prognosis DBD bergantung pada pengenalan secara dini kebocoran plasma, dengan melakukan pemantauan terhadap penurunan tajam jumlah trombosit dan peningkatan hematokrit. Abnormalitas phatofisiologi mayor pada DBD/DSS (dengue shock syndrome) adalah peningkatan akut permeabilitas vaskuler yang mengarah kehilangan plasma dari kompartemen vaskuler. Perembesan plasma dapat menimbulkan syok, yang bila tidak teratasi, menimbulkan anoreksia jaringan, asidosis metabolik dan kematian (WHO, 2004).
Pemeriksaan laboratorium terhadap hematokrit dan trombosit dapat menentukan boleh tidaknya pasien dipulangkan dari rumah sakit, nilai HB, HT dalam batas normal dengan jumlah trombosit lebih dari 100.000/mm3 dalam waktu 24 jam, dan akan mempercepat kesembuhan dan memperpendek hari rawat.
Di Bengkulu khususnya di Rumah Sakit Dr.M Yunus Tahun 2008 jumlah penderita demam berdarah berjumlah 94 orang, diantaranya terdapat 70 orang yang dirawat di ruang C2 (Melati). Angka prevalensi penderita demam berdarah (DBD) yang peneliti survey pada tanggal 7 Oktober 2009 dari register ruang C2 (Melati) diperoleh data pasien berjumlah 60 orang dengan hari rawat yang variatif dari 3-7 hari dengan jumlah trombosit ≤ 100.000 dan peningkatan hematokrit ≥20%.
Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian guna mengetahui hubungan jumlah hematokrit dengan lama perawatan pasien demam berdarah dengue diruang Melati RSUD Dr.M. Yunus Bengkulu Tahun 2009.
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan jumlah hematokrit dengan lama perawatan pasien demam berdarah dengue di ruang Melati RSUD Dr.M. Yunus Bengkulu tahun 2009.

METODOLOGI PENELITIAN

Desain penelitian ini adalah survey analitik dengan metode cross secsional, dimana penelitian ini menguji variable independent yaitu nilai trombosit dan hematokrit dengan variable dependent yaitu lama hari rawat pasien Demam Dengue, dengan menggunakan data retrospektif kejadian Demam Berdarah periode 1 Januari-31 Desember Tahun 2009 di ruang C2 Melati RSUD Dr. M Yunus.
Populasi adalah keseluruhan dari unit di dalam pengamatan yang akan kita lakukan (Hastono, 1999). Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh pasien yang didiagnosa DBD yang dirawat inap diruang C2(Melati) di RSUD Dr.M Yunus Bengkulu periode 1 Januari sampai 31 Desember 2009 berjumlah 70 orang, Sampel adalah sebagian dari populasi yang nilai/karakteristiknya kita ukur dan yang nantinya kita pakai untuk menduga karalteristik dari populasi. (Hastono, 1999)
Dalam penelitian ini sampel yang diambil dilakukan secara total sampling, dimana arti total sampling adalah peneliti melakukan survey kepada seluruh populasi sumber yang akan diteliti sebagai responden (Murti, 2006). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh pasien yang didiagnosa DBD dirawat di ruang C2 Melati RSUD Dr. M Yunus Bengkulu periode 1 Januari sampai 31 Desember 2009 berjumlah 70 orang. Penelitian ini dilakukan selama 4 bulan, dari bulan September 2009 hingga Januari 2010 diruang C2 Melati RSUD Dr.M Yunus Bengkulu.

HASIL PENELITIAN


Analisa Univariat
Data yang telah dikumpulkan menggunakan format pengumpulan data dan telah dilakukan pengolahan baik secara komputerisasi maupun secara manual, maka didapatkan hasil sebagai berikut :

 

\Tabel 4.1Distribusi Nilai Trombosit dan Hematokrit Dengan Lama Hari Rawat Pasien DBD di ruang C2 (Melati) RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu Tahun 2009

No Variable Mean Median SD Minimal-Maximal 95% Cl
1.


2.


3. Nilai Trombosit(mm3)

Nilai hematokrit awal(%)

Lama hari rawat (hari) 77.171,43

40,34


5,66 57.000


41,00


5,00 55.069,65

8.016


2.377 15.000-290.000

14-53


2-13 64.040,54-90.302,32

38,43 – 42,25


5,09 – 6,22

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa rata-rata nilai trombosit adalah 77.171,43 (95% Cl = 64.040 – 90.302), dengan standar deviasi 55.069,5 mm3, nilai trombosit terkecil 15.000 mm3 dan nilai trombosit terbesar adalah 290.000 mm3. Rata-rata nilai hematokrit adalah 40,34 (95% Cl 38,43 – 42,25), dengan standar deviasi 8,016 %, nilai hematokrit terkecil 14 %, dan nilai hematokrit terbesar 53 %. Untuk rata-rata lama hari rawat = 5,66 hari

(95% Cl 5,09 – 6,22), dengan standar deviasi 2,377 hari, lama hari rawat terkecil 2 hari dengan lama hari rawat terbesar 13 hari. Dari hasil estmasi interval dapat disimpulkan bahwa di dalam populasi rata-rata jumlah nilai trombosit berkisar antara 64.040,54 mm3 sampai 90.302,32, rata-rata jumlah nilai hematokrit 38,43 % - 42,25 %, dan rata-rata jumlah lama hari rawat 5,09 – 6,22 hari

Analisa Bivariat

Pada analisa bivariat ini akan dapat dilihat hubungan antara variable independent (nilai trombosit dan hematokrit) dengan variabel dependent (lama hari rawat) dapat dilihat dari tabel dibawah ini :

Tabel 4.2 Analisis korelasi dan regresi rombosit dengan lama hari rawat DBD di ruang C2 Melati RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu Tahun 2009

Variabel r r2 Persamaan Garis P. Value
Trombosit -0,347 0,120 Lama hari rawat= 6,813 + (-1,1498) x nilai trombosit 0,003

Dari tabel 4.2 di atas dapat dilihat bahwa :
Hubungan trombosit sedang (r = -0,347) dan berpola negative, artinya semakin rendah nilai trombosit maka semakin lama hari rawat pasien DBD. Nilai koefisien determinasi = 0,120 artinya persamaan garis regresi yang diperoleh, dapat menerangkan 12% variasi nilai trombosit. Hasil uji statistic didapatkan ada hubungan yang signifikan antara trombosit dengan lama hari rawat (p = 0,003).

Tabel 4.3 Analisis korelasi dan regresi hematokrit dengan lama hari rawat pasien DBD di ruang C2 Melati RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu Tahun 2009

Variabel r r2 Persamaan Garis P. Value
Hematokit -0,073 0,005 Lama hari rawat= 6,529+(-0,022) x nilai hematokrit 0,549
Hubungan nilai hematokrit dengan lama hari rawat menunjukkan hubungan lemah (r = - 0,073) dan tidak ada hubungan linear, artinya nilai hematokrit tidak mempengaruhi lama hari rawat pasien DBD, nilai koefesien determinasi = 0,005 artinya persamaan garis regresi yang diperoleh dapat menerangkan 0,5% variasi nilai hematokrit. Hasil uji statistik didapatkan tidak ada hubungan yang signifikan antara nilai hematokrit dengan lama hari rawat (p = 0,549).

PEMBAHASAN

Nilai Trombosit

Hasil uji korelasi dan regresi linear pada penelitian ini menunjukkan nilai  < 0,05 ( = 0,003) yang berarti secara statistik ada hubungan yang signifikan antara nilai trombosit dengan lama hari rawat pasien DBD di ruang C2 Melati RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu Tahun 2009. Kekuatan hubungan menunjukkan hubungan sedang (r = -0,347) dan berpola negatif, artinya semakin berkurang nilai trombosit semakin bertambah lama hari rawat pasien DBD.
Hal ini sejalan dengan pendapat (Purnawati, 2008) bahwa perawatan DBD tidak memerlukan waktu yang lama asalkan fase kritis sudah lewat, semakin tinggi gradenya makin lama pasien itu dirawat. Menurut WHO, DBD diklasifikasikan menjadi 4 grade. Pada penanganan DBD bila trombosit normal (100.000-150.000/mm3) pasien dapat digolongkan dengan anjuran kontrol atau berobat jalan, namun jika memasuki derajat II dengan nilai trombosit < 100.000 maka pasien akan dirawat di rumah sakit dan lama hari rawat akan bertambah lama jika derajatnya makin tinggi. Jika nilai trombosit semakin memasuki nilai normal maka semakin cepat proses penyembuhan DBD, sehingga dapat mempercepat hari rawat pasien, namun jika nilai trombosit semakin rendah dari nilai batas normal, maka hari rawat pasien akan bertambah lama. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Rizwan tahun 2006 terdapat korelasi yang bermakna antara trombosit dan derajat demam berdarah dengan kekuatan korelasi yang lemah serta arah korelasi negative.
Berbeda dengan pendapat Rezeki, (2002) pasien dapat dipulangkan apabila trombosit > 50.000/mm3 dan melihat factor-faktor lain seperti : tidak demam selama 24 jam, nafsu makan membaik, secara klinis ada perbaikan, hematokrit stabil dan tidak dijumpai distress pernafasan.

Nilai Hematokrit

Hasil uji korelasi dan regresi linear pada penelitian ini menunjukkan nilai p = > 0.005 (0,549) yang berarti secara statistik tidak ada hubungan yang signifikan antara nilai hematokrit dengan lama hari rawat pasien DBD diruang C2 Melati RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu Tahun 2009.
Nilai hematokrit tidak mempengaruhi lama hari rawat pasien DBD, Hal ini disebabkan para penderita DBD mengalami penurunan trombosit namun tidak mengalami kenaikan hematokrit, karena belum terjadi perembesan cairan keluar dari pembuluh darah. hal ini sesuai dengan pendapat perhimpunan Dokter Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) bersama dengan divisi penyakit Tropik dan infeksi dan divisi hematologi dan onlologi medic fakultas kedokteran Universitas Indonesia, jika HB, HT normal tetapi trombosit <100.000 dianjurkan untuk dirawat dirumah sakit. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Ihsan Tahun 2008 bahwa tidak terdapat hubungan kadar hematokrit awal dengan derajat klinis DBD.
Hematokrit (HT) adalah angka yang menunjukkan persentasi zat padat dalam darah terhadap cairan darah. Dengan demikian jika terjadi perembesan cairan keluar dari pembuluh darah, sementara bagian padatnya tetap dalam pembuluh darah, akan terjadi peningkatan kadar hematokrit (Ganong, 2003). Pada DBD, Hematokrit meningkat, hal ini terjadi karena terjadi perembesan cairan keluar dari pembuluh darah sehingga darah menjadi kental. (Alan, 2006). Meningkatnya hematokrit ≥ 20 % dari hematokrit awal, menandakan kebocoran plasma, hal ini menunjukkan bahwa tubuh mengalami deficit cairan sebanyak 5 % (Sudoyo, 2007), Keadaan dehidrasi akibat demam berdarah akan menyebabkan suplay darah keginjal menurun, yang berpotensi terjadinya gagal ginjal pre-renal yang bersifat akut (Ahmad, 2002 ). Namun jika nilai hematokrit rendah menandakan pasien tersebut anemia (Ayarani, 2008).

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan diruang C2 Melati RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu Tahun 2009 mengenai nilai trombosit dan hematokrit dengan lama hari rawat pasien DBD telah dianalisis bivarat dapat disimpulkan secara statistik bahwa :
1. Rata-rata nilai trombosit pada pasien DBD diruang C2 Melati RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu Tahun 2009 adalah 77.171,43 (95% Cl = 64.040 – 90.302), dengan standar deviasi 55.069,5 mm3, nilai trombosit terkecil 15.000 mm3 dan nilai trombosit terbesar adalah 290.000 mm3.
2. Rata-rata nilai hematokrit pada pasien DBD diruang C2 Melati RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu Tahun 2009 adalah 40,34 (95% Cl 38,43 – 42,25), dengan standar deviasi 8,016 %, nilai hematokrit terkecil 14 %, dan nilai hematokrit terbesar 53 %.
3. Untuk rata-rata lama hari rawat pada pasien DBD diruang C2 Melati RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu Tahun 2009 adalah 5,66 hari (95% Cl 5,09 – 6,22), dengan standar deviasi 2,377 hari, lama hari rawat terkecil 2 hari dengan lama hari rawat terbesar 13 hari.
4. Terdapat korelasi yang bermakna antara trombosit dengan lama hari rawat dengan kekuatan korelasi yang sedang serta arah korelasi negatif
5. Tidak dapat korelasi yang bermakna antara hematokrit dengan lama hari rawat pasien DBD serta arah korelasi yang lemah.


DAFTAR PUSTAKA

Alan. 2004. Ikatan Anak Ludonesa. iakses 31 Januari 2010 http://202.146.5.33/kesehatan/news/0403/20/085238.htm
Amran. 2009. Sejarah Berdirinya Rumah Sakit. Diakses 31 Januari 2010 http://rsud.m.yunus.blogsport.com/
Andini. 2009. Pengetahuan Ibu Tentang DBD. Diakses 23 November 2009 http://juliawa.com/2009/06/kasus-prita-mulyasari/
Bruner And Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah, EGC, Jakarta
Dinkes Kota Bengkulu. 2005. Profil Kesehatan Kota Bengkulu 2005
Dinkes Propinsi Bengkulu. 2006. Profil Kesehatan Kota Bengkulu 2006
Dorland. 1994. Kamus Kedokteran. EGC. Jakarta
Endarwanto. 1996. Buku Ajar Penyakit Dalam Edisi ke 3. FKUI. Jakarta
Ganong. 1998. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta. EGC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Harison. 1999. Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam. EGC. Yogyakarta
Hary. 2009. Perhitungan BOR, AVLOS, TOI, BTO, GDR, NDR. Diakses 23 November 2009 Http://FKM.UNAIR.ac.id
Hastono. 2006. Basic Data Analysis For Health Research. FKM. UI.
Mansjoer A, dkk. (2000). Kapita Selekto. Edisi 3. Media Aesculapius. Jakarta
Noer, S. Dkk. QAAD.Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 3. Jakarta
Notoadmodjo S, 2005, Metodologi Penelitian Kesehatan, Jakarta EGC
Price, 2006. Patoftsiologi, Jakarta EGC.
Profil Rumah Sakit Umum Dr. M. Yunus Bengkulu. Tahun 2007
Setiohadi, B, 2006. Konsep Demam Berdarah Dengue. EGC, Jakarta
Suardi, 2001. Buku Ajar Penyahit Dalam Jilid I, FKUI, Jakarta.
Sudoyo,2006. Penatalaksanaan Demnm Berdarah Dengae, EGC, Jakarta.
Sutanto, 1999. Modul Biostatistih Dan Statistik Kesehatan,FKM. UI
Tjoronegoro ,2002. Demam Berdarah Dengue, FKUI, Jakarta
WHO, 2004. Demam Berdarah Dengue. EGC, Jakarta
Zein, 2004. Pedoman Penatalaksanaan One Day Cme Penderita Demsm Berdarah Dengue Dewasu Diakses 20 Oktober 2009, e-USUReposytory@2004 Universitas Sumatera Utara