HUBUNGAN 4 T DENGAN KEJADIAN PREEKLAMPSIA PADA IBU BERSALIN DI RSUD HASANUDDIN DAMRAH MANNA BENGKULU SELATAN

HUBUNGAN 4 T DENGAN KEJADIAN PREEKLAMPSIA PADA IBU BERSALIN DI RSUD HASANUDDIN DAMRAH MANNA BENGKULU SELATAN

 

Vevi Gusnidarsih

Dosen Tetap Akademi Kebidanan Manna

 

Abstrak: Kematian ibu terjadi pada perempuan yang terlalu muda untuk hamil, ada juga yang terlalu tua untuk hamil, terlalu banyak anak, dan terlalu dekat jarak kehamilan. Selain itu, terdapat beberapa kondisi lainnya seperti: Anemia; Perkawinan usia dini masih tinggi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan  4 Terlalu terhadap kejadian Preeklampsia di RSUD Hasanuddin Damrah Manna Bengkulu Selatan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah survei analitik dengan pendekatan secara case control. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah sistematis random sampling yaitu metode pengambilan sampel secara acak sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 114 ibu bersalin usia terlalu muda  ≤ 20 tahun sebanyak 41 (36,0%); usia  ≥ 35 tahun sebanyak 44 (38,6%); jumlah anak ≥ 4 anak sebanyak 38 (33,3%); jarak kelahiran terlalu dekat ≤ 2 tahun sebanyak 32 (28,1%). Hasil statistik uji chi square  usia terlalu muda didapatkan nilai p value = 0,032  (p value < 0,05); usia terlalu tua nilai p value = 0,047   (p value < 0,05); terlalu banyak anak nilai p value = 0,021 (p value < 0,05);  terlalu dekat jarak kehamilan nilai p value = 0,012  (p value < 0,05). Simpulannya bahwa ada hubungan antara usia terlalu muda,   usia  terlalu tua,  jumlah anak,  jarak kelahiran terlalu dekat dengan kejadian preeklampsia.

 

Kata Kunci: Preeklampsia, 4 T (Usia Terlalu Muda, Terlalu Tua, Jumlah Anak,  Jarak Kelahiran Terlalu Dekat)

 

 

 

PENDAHULUAN

MDGs atau Millenium Development Goals (Tujuan Pembangunan Millenium) adalah 8 tujuan yang telah disetujui oleh 191 negara anggota Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk dapat dicapai pada tahun 2015 yang ditandatangani saat Deklarasi Millenium PBB. Deklarasi Millenium PBB yang ditandatangani pada bulan September tahun 2000 menargetkan para pemimpin dunia untuk dapat memberantas kemiskinan, kelaparan, penyakit-penyakit, buta huruf, kerusakan lingkungan, serta diskriminasi terhadap wanita. MDGs adalah turunan atau produk dari deklarasi ini, dan mempunyai beberapa target dan indikator yang spesifik (Piter Stalker, 2008) 

Pada Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) (2012), Angka Kematian Ibu (AKI) per 100.000 kelahiran hidup menurun secara dari 390 (1991) menjadi 334 (1997), 307 (2003), dan 228 (2007). Tahun 2012 untuk pertama kalinya AKI melonjak, yaitu 359 per 100.000 kelahiran hidup. Dengan kondisi itu, perjuangan mencapai target MDGs makin berat. Target MDGs 2015, AKI ditekan menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup. Selain AKI, Angka Kematian Bayi (AKB) masih jauh dari target MDGs. SDKI 2012 menyebutkan, AKB 32 per 1.000 kelahiran hidup, turun sedikit dibandingkan 2007, yaitu 34 per 1.000 kelahiran hidup. Target MDGs AKB 23 per 1.000 kelahiran hidup spesifik (Kalyanamitra, 2013).

30

 

Kematian ibu terjadi pada perempuan yang terlalu muda untuk hamil, ada juga yang terlalu tua untuk hamil, terlalu banyak anak, dan terlalu dekat jarak kehamilan. Selain itu, terdapat beberapa kondisi lainnya seperti: Anemia; Perkawinan usia dini masih tinggi. Selain itu, terdapat beberapa kondisi lainnya seperti: Anemia  pada penduduk usia 15-24 tahun masih tinggi yaitu sebesar 18,4% (Riskesdas, 2013); Perkawinan usia dini masih tinggi yaitu sebesar 46,7% (Riskesdas, 2010); Angka kelahiran pada usia remaja  juga masih tinggi yaitu sebesar 48 per 1.000 perempuan usia 15-19 tahun (SDKI, 2012); dan kebutuhan pelayanan KB yang tidak terpenuhi atau unmet need masih relatif tinggi, yaitu sebesar 8,5% (Kemenkes RI, 2014).

Data persalinan dengan kejadian preeklampsia di RSUD Hasanuddin Damrah Manna Bengkulu Selatan Tahun 2013 berjumlah 53 orang atau 5,83% dari ibu bersalin sebanyak 908 orang. Dan pada tahun 2014 jumlah ibu bersalin sebanyak 568 orang dengan kejadian preeklampsia berjumlah 57 orang atau 10,03%. Data ini menunjukkan bahwa kejadian preeklampsia berdasarkan persentase meningkat dari tahun sebelumnya.

 

METODE PENELITIAN

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan case control yaitu desain penelitian yang bertujuan untuk mencari hubungan antara faktor resiko kebelakang dengan efek saat ini (Notoatmodjo, 2012). Desain penelitian ini digunakan untuk mencari hubungan faktor resiko : 4 T dengan kejadian preeklampsia pada kasus ataupun kontrol di Ruang Kamar Bersalin RSUD Hasanuddin Damrah Manna. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei sampai Juni  2015 di Ruang Kamar Bersalin RSUD Hasanuddin Damrah Manna.

Populasi pada penelitian ini ibu bersalin sebanyak 568 orang. Besar sampel pada penelitian ini adalah semua ibu bersalin yang mengalami kejadian preeklampsia. Sampel pada penelitian ini adalah 57 ibu bersalin  pada  kelompok kasus dan 57 ibu bersalin pada kelompok kontrol (1:1). Pengambilan sampel untuk kelompok kasus dengan totality sampling dan kontrol dilakukan dengan dengan sistematis random sampling, setiap elemen diseleksi secara acak berurutan. Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa data secara univariat dan bivariat.

 

HASIL PENELITIAN

  1. Analisis Univariat

Tabel 1 Distribusi Frekuensi Ibu Bersalin

 

 

Ibu Bersalin 

F

%

 

Kasus

(preeklampsia)

57

50

 

Kontrol

(tidak preeklampsia)

57

50

Total

114

100

Berdasarkan tabel 1 didapatkan bahwa, dari 114  ibu bersalin terdapat kasus (preeklampsia) sebanyak 57 (50,0%)   dan kontrol (tidak preeklampsia) sebanyak 57 (50,0%)  .

 

Tabel 2 Distribusi Frekuensi Terlalu Muda

 

 

Terlalu Muda

F

%

 

> 20 tahun

73

64

 

≤ 20 tahun

41

36

Total

114

100

 

Berdasarkan tabel di atas didapatkan bahwa, dari 114 ibu bersalin sebanyak 41 (36,0%) dengan usia ≤ 20 tahun.

 

Tabel 3 Distribusi Frekuensi Terlalu Tua

 

 

Terlalu Tua

F

%

 

< 35 tahun

70

61,4

 

≥35 tahun

44

38,6

Total

114

100

 

Berdasarkan tabel di atas didapatkan bahwa dari 114 ibu bersalin sebanyak 44 (38,6%) dengan usia  ≥ 35 tahun.

Tabel 4 Distribusi Frekuensi Terlalu Banyak Anak

 

 

Terlalu Banyak Anak

F

%

 

< 4 anak

76

66,7

 

≥ 4 anak

38

33,3

Total

114

100

Berdasarkan tabel 4 di atas didapatkan bahwa, dari 114 ibu bersalin sebanyak 38 (33,3%) dengan jumlah anak ≥ 4 anak.

 

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Terlalu Dekat Jarak Kelahiran

                                                                                                                                                   

No

Terlalu Dekat Jarak

F

%

 

> 2 tahun

82

71,9

 

≤ 2 tahun

32

28,1

Total

114

100

 

Berdasarkan tabel di atas didapatkan bahwa dari 114 ibu bersalin sebanyak 32 (28,1%) dengan jarak kelahiran terlalu dekat ≤ 2 tahun.

  1. Analisis Bivariat

Tabel 4.6 Hubungan Preeklampsia   dengan Usia Terlalu Muda

 

Terlalu Muda

Ibu Bersalin

Total

ρ value

Kontrol

Kasus

n

%

n

%

N

%

> 20 tahun

42

36,8

31

27,2

73

64

0,032

≤ 20 tahun

15

13,2

26

22,8

41

36

Jumlah

57

50,0

57

50,0

114

100

Berdasarkan tabel di atas didapatkan hasil bahwa ibu bersalin usia terlalu muda ≤ 20 tahun untuk kelompok kasus (preeklampsia) sebanyak   26 orang (22,8%) yang mengalami preeklampsia dan untuk kontrol yang tidak mengalami preeklampsia sebanyak   15 orang (13,2%) untuk usia terlalu muda ≤ 20 tahun.  Hasil perhitungan statistik uji chi square  didapatkan nilai p value = 0,032  (p value < 0,05), dapat diartikan bahwa ada hubungan antara kejadian preeklampsia   dengan usia terlalu muda.

Tabel 4.7 Analisis Hubungan Preeklampsia   dengan Usia Terlalu

 

Terlalu Tua

Ibu Bersalin

Total

ρ value

Kontrol

Kasus

n

%

n

%

N

%

< 35 tahun

41

36

29

25,4

70

61,4

0,048

≥ 35 tahun

16

14

28

24,6

44

38,6

Jumlah

57

50

57

50

114

100

 

Berdasarkan tabel di atas didapatkan hasil bahwa ibu bersalin usia terlalu tua yang mengalami preeklampsia untuk  kasus sebanyak 28  (24,6%) dengan usia terlalu tua ≥ 35 tahun dan  ibu terlalu tua yang tidak mengalami preeklampsia untuk kontrol sebanyak 16 orang  (14,0%) dengan usia terlalu tua ≥ 35 tahun. Hasil perhitungan statistik uji chi square  didapatkan nilai p value = 0,048   (p value < 0,05), dapat diartikan bahwa ada hubungan antara kejadian preeklampsia   dengan usia terlalu tua melahirkan.

Tabel 4.8 Analisis Hubungan Preeklampsia   dengan Terlalu Banyak Anak

Terlalu Banyak Anak

Ibu Bersalin

Total

ρ

value

Kontrol

Kasus

n

%

n

%

N

%

< 4 anak

43

37,7

33

28,9

76

66,7

0,047

≥ 4 anak

14

12,3

24

21,1

38

33,3

Jumlah

57

50

57

50

114

100

 

Berdasarkan tabel di atas didapatkan hasil bahwa ibu bersalin terlalu banyak anak yang mengalami preeklampsia untuk kasus sebanyak   24 orang (21,1%) dengan jumlah anak  ≥ 4 anak dan  ibu terlalu banyak anak ≥ 4 anak yang tidak mengalami preeklampsia untuk kontrol sebanyak   14 orang (12,3%). Hasil perhitungan statistik uji chi square  didapatkan nilai p value = 0,047 (p value < 0,05), dapat diartikan bahwa ada hubungan bermakna antara kejadian preeklampsia dengan terlalu banyak anak.

Tabel 4.9 Analisis Hubungan Preeklampsia   dengan Terlalu Dekat Jarak Kelahiran

 

Terlalu Dekat Jarak Kelahiran

Ibu Bersalin

Total

ρ

value

Kontrol

Kasus

n

%

n

%

N

%

≤ 2 tahun

47

41,2

35

30,7

82

71,9

0,012

> 2 tahun

10

8,8

22

19,3

32

28,1

Jumlah

57

50

57

50

114

100

Berdasarkan tabel di atas didapatkan hasil bahwa ibu bersalin terlalu dekat jarak kelahiran yang mengalami preeklampsia (kasus) sebanyak  35  (30,7%) dengan jarak kelahiran  ≤ 2 tahun dan  yang tidak mengalami preeklampsia (kontrol) sebanyak  47 orang (41,2%) jarak kelahiran  ≤2 tahun. Hasil perhitungan statistik uji chi square  didapatkan nilai p value = 0,012  (p value < 0,05), dapat diartikan bahwa ada hubungan antara kejadian preeklampsia dengan terlalu dekat jarak kehamilan.

 

PEMBAHASAN

  1. Hubungan Kejadian Preeklampsia   dengan Usia Terlalu Muda

 

Hasil perhitungan statistik uji chi square  didapatkan nilai p value = 0,032  (p value < 0,05), dapat diartikan bahwa ada hubungan antara kejadian preeklampsia   dengan usia terlalu muda.

Hasil penelitian ini didukung oleh teori Manuaba (2010), yang mengatakan bahwa wanita hamil adalah saat dimana kondisi tubuh harus terjaga dengan prima. Kondisi kesehatan, status mental dan gaya hidup bisa memicu komplikasi yang sering pada kehamilan seperti salah satunya preeklampsia dan abortus. Usia sangat menentukan suatu kesehatan ibu, ibu dikatakan beresiko tinggi apabila ibu hamil berusia      ≤ 20 tahun dan ≥ 35 tahun. Usia berguna untuk mengantisipasi diagnosa masalah kesehatan dan tindakan yang dilakukan. Wanita hamil kurang dari 20 tahun dapat merugikan kesehatan ibu maupun pertumbuhan dan perkembangan janin karena belum matangnya alat reproduksi untuk hamil.

 

  1. Hubungan Kejadian Preeklampsia   dengan Usia Terlalu Tua

 

Hasil perhitungan statistik uji chi square  didapatkan nilai p value = 0,021   (p value < 0,05), dapat diartikan bahwa ada hubungan antara kejadian preeklampsia   dengan usia terlalu tua melahirkan.

Seorang ibu dengan usia ≥ 35 tahun secara fisik perlahan-lahan akan mengalani degenerasi atau kemunduran dalam fungsi organ tubuh, demikian juga dengan keadaan organ reproduksinya. Usia  ≥ 35 tahun merupakan usia yang beresiko untuk terjadinya hipertensi dalam kehamilan yang pada akhirnya akan menyebabkan preeklampsia dan eklampsia.

Hasil penelitian ini sesuai dengan Sarwono (2010) yang menyatakan bahwa terlalu tua hamil adalah ibu hamil pertama pada usia ≥ 35 tahun. Pada usia tersebut mudah terjadi penyakit pada ibu dan organ kandungan mereka. Seperti diketahui bahwa umur yang ekstrim merupakan salah satu faktor resiko terjadinya hipertensi dalam kehamilan, yang klasifikasinya adalah hipertensi kronik, preeklampsia-eklampsia, hipertensi kronik dengan superimposed preeklampsia, dan hipertensi gestational.

 

  1. Hubungan Kejadian Preeklampsia   dengan Terlalu Banyak Anak

 

Hasil perhitungan statistik uji chi square  didapatkan nilai p value = 0,047 (p value < 0,05), dapat diartikan bahwa ada hubungan bermakna antara kejadian Preeklampsia   dengan terlalu banyak anak.

Manuaba (2010) menyatakan kehamilan dan persalinan pada paritas tinggi atau grandemulti adalah ibu hamil dan melahirkan di atas 5 kali. Paritas tinggi merupakan paritas rawan oleh karena paritas tinggi banyak kejadian obstetrik patologi yang bersumber pada paritas tinggi, antara lain plasenta previa, perdarahan postpartum dan lebih memungkinkan lagi terjadinya atonia uteri. Pada paritas tinggi bisa terjadi preeklampsia ringan.

37

 

35

 

Jumlah kelahiran anak ≥ 5 anak sangat mempengaruhi keadaan rahim ibu. Selain memicunya resiko hipertensi dan menyebabkan preeklampsia dan eklampsia juga menjadikan ancaman nyawa bagi ibu dan janin. Untuk itu sebagai bidan atau tenaga kesehatan diharapkan agar senantiasa memberikan pengertian kepada ibu hamil dan keluarga muda agar mengikuti program KB, karena selain menguntungkan bagi kesehatan ibu dan anak juga berguna dalam segi ekonomi keluarga Depkes (2010).

 

  1. Hubungan Kejadian Preeklampsia   dengan Terlalu Dekat Jarak kelahiran

Hasil perhitungan statistik uji chi square  didapatkan nilai p value = 0,012  (p value < 0,05), dapat diartikan bahwa ada hubungan antara kejadian preeklampsia   dengan terlalu dekat jarak kehamilan.

Sejalan dengan Depkes (2010), menyatakan bahwa kehamilan dan persalinan dengan jarak anak sebelum ≤ 2 tahun, perlu diwaspadai untuk timbulnya gangguan dalam kehamilan dan persalinan. Bila jarak kehamilan dengan anak sebelumnya ≤ 2 tahun, rahim dan kesehatan ibu belum pulih dengan baik. Persalinan dan kehamilan dalam keadaan ini perlu pengawasan yang lebih ekstra, karena adanya kemungkinan pertumbuhan janin kurang baik dalam persalinan yang lama atau pendarahan, serta preeklampsia dan eklampsia.

38

 

Manuaba (2010) mengatakan bahwa jarak antar kehamilan yang terlalu dekat (kurang dari 2 tahun) dapat meningkatkan risiko untuk terjadinya kematian maternal. Persalinan dengan interval kurang dari 24 bulan (terlalu sering) secara nasional sebesar 15%, dan merupakan kelompok risiko tinggi untuk perdarahan postpartum, kesakitan dan kematian ibu. Jarak antar kehamilan yang disarankan pada umumnya adalah paling sedikit dua tahun, untuk memungkinkan tubuh wanita dapat pulih dari kebutuhan ekstra pada masa kehamilan dan laktasi. Penelitian yang dilakukan di tiga rumah sakit di Bangkok pada tahun 1973 sampai 1977 memperlihatkan bahwa wanita dengan interval kehamilan kurang dari dua tahun memiliki risiko dua setengah kali lebih besar untuk mengalami preeklampsia dan preeklampsia dibandingkan dengan wanita yang memiliki jarak kehamilan lebih lama.

 

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian tentang hubungan 4 Terlalu terhadap kejadian preeklampsia   di RSUD Hasanuddin Damrah Manna Tahun 2014, disimpulkan :

  1. Bahwa dari 114 ibu bersalin usia terlalu muda  ≤ 20 tahun sebanyak 41 (36,0%); usia  ≥ 35 tahun sebanyak 44 (38,6%); jumlah anak ≥ 4 anak sebanyak 36 (33,3%); jarak kelahiran terlalu dekat ≤ 2 tahun sebanyak 32 (28,1%).
  2. Hasil perhitungan statistik uji chi square  didapatkan usia terlalu muda p value = 0,032  (p value < 0,05); usia terlalu tua p value = 0,021   (p value < 0,05); terlalu banyak anak p value = 0,047 (p value < 0,05) dan terlalu dekat jarak kehamilan p value = 0,012  (p value < 0,05).
  3.  Ada hubungan yang signifikan antara usia terlalu muda, usia terlalu tua, usia terlalu tua melahirkan, terlalu banyak anak, dan  terlalu dekat jarak kehamilan dengan kejadian preeklampsia   .

 

RUJUKAN (Daftar Pustaka)

Dinkes Kabupaten Bengkulu Selatan. (2013). Profil Kesehatan Kabupaten Bengkulu Selatan Tahun 2013. Dinkes Bengkulu Selatan, Bengkulu

Dinkes Propinsi Bengkulu. (2013). Profil Kesehatan Provinsi Bengkulu Tahun 2013. Dinkes Provinsi, Bengkulu

Depkes RI.(2010). Angka Kematian Ibu di Indonesia. Depkes RI, Jakarta

Kemenkes RI. (2014).  Jadilah Kartini Indonesia Yang Tidak Mati Muda (Pencanangan Kampanye Peduli Kesehatan Ibu 2014). Online http://www.depkes.go.id. Diakses pada Kamis Tanggal   12 Maret 2015.

Kalyanamitra 2013. Ancaman Target MDG: Angka Kematian Ibu Melonjak Drastis. Kompas, Jakarta

Manuaba 2010. Ilmu Kesehatan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. EGC, Jakarta.

Piter Stalker 2008.   Tujuan Pembangunan Milenium Indonesia Kementerian Perencanaan Pembangunan Naional/Bappenas. Online. http://id.wikipedia. Diakses pada Senin Tanggal   09 Maret 2015.

Prawirohardjo S 2010. Ilmu Kebidanan. Edisi Keempat, Cetakan Ketiga, Yayasan Bina Pustaka, Jakarta

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HUBUNGAN 4 T DENGAN KEJADIAN PREEKLAMPSIA                      PADA IBU BERSALIN DI RSUD HASANUDDIN DAMRAH MANNA BENGKULU SELATAN

 

Vevi Gusnidarsih

Dosen Tetap Akademi Kebidanan Manna

 

Abstrak: Kematian ibu terjadi pada perempuan yang terlalu muda untuk hamil, ada juga yang terlalu tua untuk hamil, terlalu banyak anak, dan terlalu dekat jarak kehamilan. Selain itu, terdapat beberapa kondisi lainnya seperti: Anemia; Perkawinan usia dini masih tinggi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan  4 Terlalu terhadap kejadian Preeklampsia di RSUD Hasanuddin Damrah Manna Bengkulu Selatan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah survei analitik dengan pendekatan secara case control. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah sistematis random sampling yaitu metode pengambilan sampel secara acak sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 114 ibu bersalin usia terlalu muda  ≤ 20 tahun sebanyak 41 (36,0%); usia  ≥ 35 tahun sebanyak 44 (38,6%); jumlah anak ≥ 4 anak sebanyak 38 (33,3%); jarak kelahiran terlalu dekat ≤ 2 tahun sebanyak 32 (28,1%). Hasil statistik uji chi square  usia terlalu muda didapatkan nilai p value = 0,032  (p value < 0,05); usia terlalu tua nilai p value = 0,047   (p value < 0,05); terlalu banyak anak nilai p value = 0,021 (p value < 0,05);  terlalu dekat jarak kehamilan nilai p value = 0,012  (p value < 0,05). Simpulannya bahwa ada hubungan antara usia terlalu muda,   usia  terlalu tua,  jumlah anak,  jarak kelahiran terlalu dekat dengan kejadian preeklampsia.

 

Kata Kunci: Preeklampsia, 4 T (Usia Terlalu Muda, Terlalu Tua, Jumlah Anak,  Jarak Kelahiran Terlalu Dekat)

 

 

 

PENDAHULUAN

MDGs atau Millenium Development Goals (Tujuan Pembangunan Millenium) adalah 8 tujuan yang telah disetujui oleh 191 negara anggota Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk dapat dicapai pada tahun 2015 yang ditandatangani saat Deklarasi Millenium PBB. Deklarasi Millenium PBB yang ditandatangani pada bulan September tahun 2000 menargetkan para pemimpin dunia untuk dapat memberantas kemiskinan, kelaparan, penyakit-penyakit, buta huruf, kerusakan lingkungan, serta diskriminasi terhadap wanita. MDGs adalah turunan atau produk dari deklarasi ini, dan mempunyai beberapa target dan indikator yang spesifik (Piter Stalker, 2008) 

Pada Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) (2012), Angka Kematian Ibu (AKI) per 100.000 kelahiran hidup menurun secara dari 390 (1991) menjadi 334 (1997), 307 (2003), dan 228 (2007). Tahun 2012 untuk pertama kalinya AKI melonjak, yaitu 359 per 100.000 kelahiran hidup. Dengan kondisi itu, perjuangan mencapai target MDGs makin berat. Target MDGs 2015, AKI ditekan menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup. Selain AKI, Angka Kematian Bayi (AKB) masih jauh dari target MDGs. SDKI 2012 menyebutkan, AKB 32 per 1.000 kelahiran hidup, turun sedikit dibandingkan 2007, yaitu 34 per 1.000 kelahiran hidup. Target MDGs AKB 23 per 1.000 kelahiran hidup spesifik (Kalyanamitra, 2013).

30

 

Kematian ibu terjadi pada perempuan yang terlalu muda untuk hamil, ada juga yang terlalu tua untuk hamil, terlalu banyak anak, dan terlalu dekat jarak kehamilan. Selain itu, terdapat beberapa kondisi lainnya seperti: Anemia; Perkawinan usia dini masih tinggi. Selain itu, terdapat beberapa kondisi lainnya seperti: Anemia  pada penduduk usia 15-24 tahun masih tinggi yaitu sebesar 18,4% (Riskesdas, 2013); Perkawinan usia dini masih tinggi yaitu sebesar 46,7% (Riskesdas, 2010); Angka kelahiran pada usia remaja  juga masih tinggi yaitu sebesar 48 per 1.000 perempuan usia 15-19 tahun (SDKI, 2012); dan kebutuhan pelayanan KB yang tidak terpenuhi atau unmet need masih relatif tinggi, yaitu sebesar 8,5% (Kemenkes RI, 2014).

Data persalinan dengan kejadian preeklampsia di RSUD Hasanuddin Damrah Manna Bengkulu Selatan Tahun 2013 berjumlah 53 orang atau 5,83% dari ibu bersalin sebanyak 908 orang. Dan pada tahun 2014 jumlah ibu bersalin sebanyak 568 orang dengan kejadian preeklampsia berjumlah 57 orang atau 10,03%. Data ini menunjukkan bahwa kejadian preeklampsia berdasarkan persentase meningkat dari tahun sebelumnya.

 

METODE PENELITIAN

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan case control yaitu desain penelitian yang bertujuan untuk mencari hubungan antara faktor resiko kebelakang dengan efek saat ini (Notoatmodjo, 2012). Desain penelitian ini digunakan untuk mencari hubungan faktor resiko : 4 T dengan kejadian preeklampsia pada kasus ataupun kontrol di Ruang Kamar Bersalin RSUD Hasanuddin Damrah Manna. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei sampai Juni  2015 di Ruang Kamar Bersalin RSUD Hasanuddin Damrah Manna.

Populasi pada penelitian ini ibu bersalin sebanyak 568 orang. Besar sampel pada penelitian ini adalah semua ibu bersalin yang mengalami kejadian preeklampsia. Sampel pada penelitian ini adalah 57 ibu bersalin  pada  kelompok kasus dan 57 ibu bersalin pada kelompok kontrol (1:1). Pengambilan sampel untuk kelompok kasus dengan totality sampling dan kontrol dilakukan dengan dengan sistematis random sampling, setiap elemen diseleksi secara acak berurutan. Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa data secara univariat dan bivariat.

 

HASIL PENELITIAN

  1. Analisis Univariat

Tabel 1 Distribusi Frekuensi Ibu Bersalin

 

 

Ibu Bersalin 

F

%

 

Kasus

(preeklampsia)

57

50

 

Kontrol

(tidak preeklampsia)

57

50

Total

114

100

Berdasarkan tabel 1 didapatkan bahwa, dari 114  ibu bersalin terdapat kasus (preeklampsia) sebanyak 57 (50,0%)   dan kontrol (tidak preeklampsia) sebanyak 57 (50,0%)  .

 

Tabel 2 Distribusi Frekuensi Terlalu Muda

 

 

Terlalu Muda

F

%

 

> 20 tahun

73

64

 

≤ 20 tahun

41

36

Total

114

100

 

Berdasarkan tabel di atas didapatkan bahwa, dari 114 ibu bersalin sebanyak 41 (36,0%) dengan usia ≤ 20 tahun.

 

Tabel 3 Distribusi Frekuensi Terlalu Tua

 

 

Terlalu Tua

F

%

 

< 35 tahun

70

61,4

 

≥35 tahun

44

38,6

Total

114

100

 

Berdasarkan tabel di atas didapatkan bahwa dari 114 ibu bersalin sebanyak 44 (38,6%) dengan usia  ≥ 35 tahun.

Tabel 4 Distribusi Frekuensi Terlalu Banyak Anak

 

 

Terlalu Banyak Anak

F

%

 

< 4 anak

76

66,7

 

≥ 4 anak

38

33,3

Total

114

100

Berdasarkan tabel 4 di atas didapatkan bahwa, dari 114 ibu bersalin sebanyak 38 (33,3%) dengan jumlah anak ≥ 4 anak.

 

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Terlalu Dekat Jarak Kelahiran

                                                                                                                                                   

No

Terlalu Dekat Jarak

F

%

 

> 2 tahun

82

71,9

 

≤ 2 tahun

32

28,1

Total

114

100

 

Berdasarkan tabel di atas didapatkan bahwa dari 114 ibu bersalin sebanyak 32 (28,1%) dengan jarak kelahiran terlalu dekat ≤ 2 tahun.

  1. Analisis Bivariat

Tabel 4.6 Hubungan Preeklampsia   dengan Usia Terlalu Muda

 

Terlalu Muda

Ibu Bersalin

Total

ρ value

Kontrol

Kasus

n

%

n

%

N

%

> 20 tahun

42

36,8

31

27,2

73

64

0,032

≤ 20 tahun

15

13,2

26

22,8

41

36

Jumlah

57

50,0

57

50,0

114

100

Berdasarkan tabel di atas didapatkan hasil bahwa ibu bersalin usia terlalu muda ≤ 20 tahun untuk kelompok kasus (preeklampsia) sebanyak   26 orang (22,8%) yang mengalami preeklampsia dan untuk kontrol yang tidak mengalami preeklampsia sebanyak   15 orang (13,2%) untuk usia terlalu muda ≤ 20 tahun.  Hasil perhitungan statistik uji chi square  didapatkan nilai p value = 0,032  (p value < 0,05), dapat diartikan bahwa ada hubungan antara kejadian preeklampsia   dengan usia terlalu muda.

Tabel 4.7 Analisis Hubungan Preeklampsia   dengan Usia Terlalu

 

Terlalu Tua

Ibu Bersalin

Total

ρ value

Kontrol

Kasus

n

%

n

%

N

%

< 35 tahun

41

36

29

25,4

70

61,4

0,048

≥ 35 tahun

16

14

28

24,6

44

38,6

Jumlah

57

50

57

50

114

100

 

Berdasarkan tabel di atas didapatkan hasil bahwa ibu bersalin usia terlalu tua yang mengalami preeklampsia untuk  kasus sebanyak 28  (24,6%) dengan usia terlalu tua ≥ 35 tahun dan  ibu terlalu tua yang tidak mengalami preeklampsia untuk kontrol sebanyak 16 orang  (14,0%) dengan usia terlalu tua ≥ 35 tahun. Hasil perhitungan statistik uji chi square  didapatkan nilai p value = 0,048   (p value < 0,05), dapat diartikan bahwa ada hubungan antara kejadian preeklampsia   dengan usia terlalu tua melahirkan.

Tabel 4.8 Analisis Hubungan Preeklampsia   dengan Terlalu Banyak Anak

Terlalu Banyak Anak

Ibu Bersalin

Total

ρ

value

Kontrol

Kasus

n

%

n

%

N

%

< 4 anak

43

37,7

33

28,9

76

66,7

0,047

≥ 4 anak

14

12,3

24

21,1

38

33,3

Jumlah

57

50

57

50

114

100

 

Berdasarkan tabel di atas didapatkan hasil bahwa ibu bersalin terlalu banyak anak yang mengalami preeklampsia untuk kasus sebanyak   24 orang (21,1%) dengan jumlah anak  ≥ 4 anak dan  ibu terlalu banyak anak ≥ 4 anak yang tidak mengalami preeklampsia untuk kontrol sebanyak   14 orang (12,3%). Hasil perhitungan statistik uji chi square  didapatkan nilai p value = 0,047 (p value < 0,05), dapat diartikan bahwa ada hubungan bermakna antara kejadian preeklampsia dengan terlalu banyak anak.

Tabel 4.9 Analisis Hubungan Preeklampsia   dengan Terlalu Dekat Jarak Kelahiran

 

Terlalu Dekat Jarak Kelahiran

Ibu Bersalin

Total

ρ

value

Kontrol

Kasus

n

%

n

%

N

%

≤ 2 tahun

47

41,2

35

30,7

82

71,9

0,012

> 2 tahun

10

8,8

22

19,3

32

28,1

Jumlah

57

50

57

50

114

100

Berdasarkan tabel di atas didapatkan hasil bahwa ibu bersalin terlalu dekat jarak kelahiran yang mengalami preeklampsia (kasus) sebanyak  35  (30,7%) dengan jarak kelahiran  ≤ 2 tahun dan  yang tidak mengalami preeklampsia (kontrol) sebanyak  47 orang (41,2%) jarak kelahiran  ≤2 tahun. Hasil perhitungan statistik uji chi square  didapatkan nilai p value = 0,012  (p value < 0,05), dapat diartikan bahwa ada hubungan antara kejadian preeklampsia dengan terlalu dekat jarak kehamilan.

 

PEMBAHASAN

  1. Hubungan Kejadian Preeklampsia   dengan Usia Terlalu Muda

 

Hasil perhitungan statistik uji chi square  didapatkan nilai p value = 0,032  (p value < 0,05), dapat diartikan bahwa ada hubungan antara kejadian preeklampsia   dengan usia terlalu muda.

Hasil penelitian ini didukung oleh teori Manuaba (2010), yang mengatakan bahwa wanita hamil adalah saat dimana kondisi tubuh harus terjaga dengan prima. Kondisi kesehatan, status mental dan gaya hidup bisa memicu komplikasi yang sering pada kehamilan seperti salah satunya preeklampsia dan abortus. Usia sangat menentukan suatu kesehatan ibu, ibu dikatakan beresiko tinggi apabila ibu hamil berusia      ≤ 20 tahun dan ≥ 35 tahun. Usia berguna untuk mengantisipasi diagnosa masalah kesehatan dan tindakan yang dilakukan. Wanita hamil kurang dari 20 tahun dapat merugikan kesehatan ibu maupun pertumbuhan dan perkembangan janin karena belum matangnya alat reproduksi untuk hamil.

 

  1. Hubungan Kejadian Preeklampsia   dengan Usia Terlalu Tua

 

Hasil perhitungan statistik uji chi square  didapatkan nilai p value = 0,021   (p value < 0,05), dapat diartikan bahwa ada hubungan antara kejadian preeklampsia   dengan usia terlalu tua melahirkan.

Seorang ibu dengan usia ≥ 35 tahun secara fisik perlahan-lahan akan mengalani degenerasi atau kemunduran dalam fungsi organ tubuh, demikian juga dengan keadaan organ reproduksinya. Usia  ≥ 35 tahun merupakan usia yang beresiko untuk terjadinya hipertensi dalam kehamilan yang pada akhirnya akan menyebabkan preeklampsia dan eklampsia.

Hasil penelitian ini sesuai dengan Sarwono (2010) yang menyatakan bahwa terlalu tua hamil adalah ibu hamil pertama pada usia ≥ 35 tahun. Pada usia tersebut mudah terjadi penyakit pada ibu dan organ kandungan mereka. Seperti diketahui bahwa umur yang ekstrim merupakan salah satu faktor resiko terjadinya hipertensi dalam kehamilan, yang klasifikasinya adalah hipertensi kronik, preeklampsia-eklampsia, hipertensi kronik dengan superimposed preeklampsia, dan hipertensi gestational.

 

  1. Hubungan Kejadian Preeklampsia   dengan Terlalu Banyak Anak

 

Hasil perhitungan statistik uji chi square  didapatkan nilai p value = 0,047 (p value < 0,05), dapat diartikan bahwa ada hubungan bermakna antara kejadian Preeklampsia   dengan terlalu banyak anak.

Manuaba (2010) menyatakan kehamilan dan persalinan pada paritas tinggi atau grandemulti adalah ibu hamil dan melahirkan di atas 5 kali. Paritas tinggi merupakan paritas rawan oleh karena paritas tinggi banyak kejadian obstetrik patologi yang bersumber pada paritas tinggi, antara lain plasenta previa, perdarahan postpartum dan lebih memungkinkan lagi terjadinya atonia uteri. Pada paritas tinggi bisa terjadi preeklampsia ringan.

37

 

35

 

Jumlah kelahiran anak ≥ 5 anak sangat mempengaruhi keadaan rahim ibu. Selain memicunya resiko hipertensi dan menyebabkan preeklampsia dan eklampsia juga menjadikan ancaman nyawa bagi ibu dan janin. Untuk itu sebagai bidan atau tenaga kesehatan diharapkan agar senantiasa memberikan pengertian kepada ibu hamil dan keluarga muda agar mengikuti program KB, karena selain menguntungkan bagi kesehatan ibu dan anak juga berguna dalam segi ekonomi keluarga Depkes (2010).

 

  1. Hubungan Kejadian Preeklampsia   dengan Terlalu Dekat Jarak kelahiran

Hasil perhitungan statistik uji chi square  didapatkan nilai p value = 0,012  (p value < 0,05), dapat diartikan bahwa ada hubungan antara kejadian preeklampsia   dengan terlalu dekat jarak kehamilan.

Sejalan dengan Depkes (2010), menyatakan bahwa kehamilan dan persalinan dengan jarak anak sebelum ≤ 2 tahun, perlu diwaspadai untuk timbulnya gangguan dalam kehamilan dan persalinan. Bila jarak kehamilan dengan anak sebelumnya ≤ 2 tahun, rahim dan kesehatan ibu belum pulih dengan baik. Persalinan dan kehamilan dalam keadaan ini perlu pengawasan yang lebih ekstra, karena adanya kemungkinan pertumbuhan janin kurang baik dalam persalinan yang lama atau pendarahan, serta preeklampsia dan eklampsia.

38

 

Manuaba (2010) mengatakan bahwa jarak antar kehamilan yang terlalu dekat (kurang dari 2 tahun) dapat meningkatkan risiko untuk terjadinya kematian maternal. Persalinan dengan interval kurang dari 24 bulan (terlalu sering) secara nasional sebesar 15%, dan merupakan kelompok risiko tinggi untuk perdarahan postpartum, kesakitan dan kematian ibu. Jarak antar kehamilan yang disarankan pada umumnya adalah paling sedikit dua tahun, untuk memungkinkan tubuh wanita dapat pulih dari kebutuhan ekstra pada masa kehamilan dan laktasi. Penelitian yang dilakukan di tiga rumah sakit di Bangkok pada tahun 1973 sampai 1977 memperlihatkan bahwa wanita dengan interval kehamilan kurang dari dua tahun memiliki risiko dua setengah kali lebih besar untuk mengalami preeklampsia dan preeklampsia dibandingkan dengan wanita yang memiliki jarak kehamilan lebih lama.

 

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian tentang hubungan 4 Terlalu terhadap kejadian preeklampsia   di RSUD Hasanuddin Damrah Manna Tahun 2014, disimpulkan :

  1. Bahwa dari 114 ibu bersalin usia terlalu muda  ≤ 20 tahun sebanyak 41 (36,0%); usia  ≥ 35 tahun sebanyak 44 (38,6%); jumlah anak ≥ 4 anak sebanyak 36 (33,3%); jarak kelahiran terlalu dekat ≤ 2 tahun sebanyak 32 (28,1%).
  2. Hasil perhitungan statistik uji chi square  didapatkan usia terlalu muda p value = 0,032  (p value < 0,05); usia terlalu tua p value = 0,021   (p value < 0,05); terlalu banyak anak p value = 0,047 (p value < 0,05) dan terlalu dekat jarak kehamilan p value = 0,012  (p value < 0,05).
  3.  Ada hubungan yang signifikan antara usia terlalu muda, usia terlalu tua, usia terlalu tua melahirkan, terlalu banyak anak, dan  terlalu dekat jarak kehamilan dengan kejadian preeklampsia   .

 

RUJUKAN (Daftar Pustaka)

Dinkes Kabupaten Bengkulu Selatan. (2013). Profil Kesehatan Kabupaten Bengkulu Selatan Tahun 2013. Dinkes Bengkulu Selatan, Bengkulu

Dinkes Propinsi Bengkulu. (2013). Profil Kesehatan Provinsi Bengkulu Tahun 2013. Dinkes Provinsi, Bengkulu

Depkes RI.(2010). Angka Kematian Ibu di Indonesia. Depkes RI, Jakarta

Kemenkes RI. (2014).  Jadilah Kartini Indonesia Yang Tidak Mati Muda (Pencanangan Kampanye Peduli Kesehatan Ibu 2014). Online http://www.depkes.go.id. Diakses pada Kamis Tanggal   12 Maret 2015.

Kalyanamitra 2013. Ancaman Target MDG: Angka Kematian Ibu Melonjak Drastis. Kompas, Jakarta

Manuaba 2010. Ilmu Kesehatan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. EGC, Jakarta.

Piter Stalker 2008.   Tujuan Pembangunan Milenium Indonesia Kementerian Perencanaan Pembangunan Naional/Bappenas. Online. http://id.wikipedia. Diakses pada Senin Tanggal   09 Maret 2015.

Prawirohardjo S 2010. Ilmu Kebidanan. Edisi Keempat, Cetakan Ketiga, Yayasan Bina Pustaka, Jakarta